SERAM BAGIAN TIMUR — Warga pesisir Seram Bagian Timur, Maluku, merasakan guncangan cukup signifikan saat gempa berkekuatan Magnitudo (M) 5,1 melanda pada Sabtu (1/8/2026) pagi. BMKG mencatat episentrum gempa berada di koordinat 2,80 Lintang Selatan dan 130,25 Bujur Timur, tepatnya 42 kilometer Barat Laut Seram Bagian Timur.
Kedalaman hiposenter tercatat hanya 10 kilometer, masuk kategori gempa dangkal yang getarannya terasa lebih kuat di permukaan. Meski demikian, hasil analisis BMKG memastikan kejadian ini tidak berpotensi tsunami.
Pusat Gempa di Darat, Getaran Terasa hingga Pesisir
Lokasi episentrum yang berada di darat membuat guncangan dirasakan langsung oleh warga di beberapa kecamatan. Jarak episentrum yang hanya puluhan kilometer dari pusat administrasi membuat banyak warga berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.
BMKG dalam keterangan resminya menuliskan parameter gempa secara lengkap: "Mag:5.1, 01-Agu-26 06:15:51 WIB, Lok:2.80 LS,130.25 BT (42 km BaratLaut SERAMBAGIANTIMUR-MALUKU), Kedlmn:10 Km." Lembaga tersebut juga menegaskan, "Tidak berpotensi tsunami."
Kedalaman 10 Km, Termasuk Gempa Dangkal
Kedalaman 10 kilometer menjadikan gempa ini tergolong dangkal. Gempa dangkal umumnya disebabkan oleh aktivitas sesar aktif di darat, bukan subduksi lempeng di laut. Karakteristik ini yang membuat guncangan terasa lebih keras meski magnitudonya relatif moderat.
Wilayah Maluku sendiri memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yakni Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Kondisi ini menjadikan aktivitas seismik di wilayah tersebut tergolong tinggi sepanjang tahun.
Belum Ada Laporan Kerusakan, Warga Diminta Tetap Tenang
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa tersebut. Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang berkekuatan lebih kecil.
BMKG juga mengingatkan warga agar tidak mudah percaya pada informasi hoaks yang beredar di media sosial. Pastikan informasi kebencanaan hanya bersumber dari kanal resmi BMKG atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Untuk kejadian susulan, warga diminta memeriksa kondisi bangunan tempat tinggalnya. Jika ditemukan retakan struktural yang membahayakan, segera hubungi aparat desa atau BPBD setempat untuk dilakukan asesmen lebih lanjut.