AMBON — Lomba cipta puisi yang digelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-451 Kota Ambon resmi menetapkan tiga pemenang. Marianna Claartje Nussy keluar sebagai Juara I melalui puisi berjudul "Senja di Kaki Gunung Sirimau", disusul Narapetra dengan "Membaca Ambon Dalam Diri Seseorang" di posisi kedua.
Aletheia Chr. Pattiasina melengkapi daftar juara lewat puisi bercorak modern berjudul "Ambon After Rain". Penilaian dilakukan dewan juri yang terdiri atas Dwi Prihandini dari Clerry Cleffy Institute, Embong Salampessy mewakili potretmaluku.id, serta Dino Umahuk dari porostimur.com.
Ambon Hadir Lewat Aroma Kopi dan Sagu Bakar
Puisi "Senja di Kaki Gunung Sirimau" dinilai punya kekuatan utama menghadirkan Ambon sebagai ruang hidup yang konkret, dekat, dan akrab. Kota itu tidak dijelaskan secara konseptual, melainkan muncul melalui pengalaman keseharian warganya.
Aroma kopi, sagu bakar, ikan asar, colo-colo, papeda, kuah ikan kuning, pala, cengkeh, sageru, suara tifa dan jukulele, pancuran di belakang rumah, hingga Gunung Sirimau menjadi bahan mentah puisi tersebut. Rangkaian pengalaman itu membuat Ambon tampil bukan sekadar nama sebuah kota.
Bagi dewan juri, Ambon dalam puisi itu hadir sebagai rumah, keluarga, tradisi, kuliner, bunyi, aroma, alam, dan kenangan sekaligus.
Bahasa Melayu Ambon Jadi Kekuatan Utama
Penggunaan bahasa Melayu Ambon turut menjadi pertimbangan juri. Kata-kata seperti "beta", "seng", "bataria", "biking", "talalu sadap", "dapa lia", dan "pono" dinilai hadir natural sebagai bagian dari suara penyair.
Dewan juri menilai pilihan diksi itu memperkuat kedekatan karya dengan masyarakat Ambon. Bahasa sehari-hari warga diangkat tanpa terkesan dipaksakan.
Kriteria Penilaian: Dari Diksi hingga Daya Gugah
Penilaian sayembara mempertimbangkan kesesuaian tema dengan semangat HUT ke-451 Kota Ambon. Aspek lain yang dinilai mencakup orisinalitas gagasan, kedalaman penghayatan terhadap Ambon dan masyarakatnya, kekuatan diksi, imaji, metafora, simbol dan majas, serta struktur dan musikalitas puisi.
Dewan juri juga melihat kekuatan emosional, daya gugah, dan kemampuan penyair menghadirkan identitas Ambon secara kreatif. Identitas itu dinilai tidak cukup hanya lewat penggambaran tempat dan ikon kota.
Sayembara ini diselenggarakan lembaga kemanusiaan Clerry Cleffy Institute bekerja sama dengan media siber potretmaluku.id dan porostimur.com. Pemenang ditetapkan pada Kamis, 17 September 2026.