Bitcoin diperdagangkan di atas USD 64.200 pada Sabtu (15/6), mencatat kenaikan lebih dari 1 persen dalam 24 jam terakhir. Lonjakan ini menghentikan rangkaian penurunan mingguan yang sudah berlangsung sejak pertengahan Mei.
Faktor geopolitik menjadi katalis utama pergerakan kali ini. Perdana Menteri Pakistan menyatakan melalui akun X-nya bahwa negosiasi damai dengan Iran berada pada tahap finalisasi. "Kami lebih dekat dengan kesepakatan damai dari sebelumnya. Finalisasi kemungkinan terjadi dalam 24 jam ke depan," tulisnya.
Pakistan disebut tengah mempersiapkan penandatanganan elektronik atas perjanjian tersebut, yang akan diikuti dengan pembicaraan teknis pada pekan depan. Pasar memandang meredanya ketegangan di Timur Tengah sebagai sinyal positif bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Sentimen bullish juga diperkuat oleh data arus dana institusional. Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sebesar USD 85,9 juta pada Jumat (14/6) — angka harian tertinggi sejak 14 Mei lalu.
Angka ini menjadi penanda bahwa minat investor institusional kembali menguat setelah beberapa pekan mengalami tekanan jual. Analis Standard Chartered menyebutkan bahwa sebagian tekanan jual sebelumnya berasal dari pemegang ETF yang melikuidasi posisi untuk berpartisipasi dalam penawaran umum perdana (IPO) SpaceX.
"Setelah peluncuran IPO SpaceX pada Jumat, tekanan jual itu mungkin akhirnya mereda," ujar analis tersebut dalam sebuah catatan.
Jika Bitcoin mampu mempertahankan kenaikannya hingga penutupan mingguan, ini akan menjadi minggu hijau pertama setelah empat pekan berturut-turut mengalami penurunan. Level USD 59.000 yang sempat disentuh awal Juni kini dianggap sebagai titik dasar (bottom) sementara oleh sejumlah analis.
Standard Chartered sebelumnya menyebut bahwa harga Bitcoin di kisaran USD 59.000 menandai berakhirnya fase "crypto winter" jangka pendek. Namun, para pelaku pasar tetap mencermati potensi volatilitas, mengingat faktor makroekonomi global dan kebijakan suku bunga AS masih menjadi variabel penentu.
Bagi investor Indonesia, pergerakan ini menjadi pengingat bahwa korelasi antara geopolitik dan aset kripto semakin kuat. Saat ketegangan global mereda, arus modal cenderung kembali ke aset berisiko tinggi seperti Bitcoin — namun sebaliknya, eskalasi konflik bisa memicu aksi jual cepat dalam hitungan jam.