Artikel dari The Verge edisi Indonesia, yang dikutip pekan ini, secara gamblang menyatakan bahwa Siri sudah tidak lagi dibutuhkan. Argumen ini bukan sekadar opini, melainkan cerminan dari pergeseran radikal di industri teknologi: asisten suara yang kaku dan terbatas pada perintah sederhana kini dianggap sebagai barang usang.
Dulu, berbicara pada ponsel dan melihatnya menjalankan perintah terasa seperti sihir. Siri menjadi pionir saat diperkenalkan pada 2011. Namun, sihir itu perlahan memudar. Sementara Siri masih berkutat pada pengaturan alarm, pengecekan cuaca, atau panggilan telepon, asisten suara modern telah melompat jauh ke depan.
Bayangkan perbedaan ini. Anda bisa meminta Siri untuk "mengingatkan saya beli susu jam 5 sore". Itu berguna, tapi terbatas. Kini, Anda bisa bertanya pada Gemini atau ChatGPT untuk "rangkumkan isi email rapat kemarin dan buatkan draf balasan yang sopan". Asisten baru ini tidak hanya mendengar, tetapi memahami konteks, menganalisis dokumen, dan menghasilkan konten baru secara kreatif.
Kelemahan utama Siri terletak pada arsitektur lamanya. Apple belum sepenuhnya mengintegrasikan model bahasa besar (LLM) ke dalam Siri. Akibatnya, Siri kesulitan menangani pertanyaan kompleks atau percakapan multi-langkah. Ia sering gagal memahami maksud pengguna jika perintah tidak diucapkan dengan kata kunci yang persis.
Di sisi lain, Google dan Microsoft telah dengan agresif menyematkan AI generatif ke dalam asisten suara mereka. Google Assistant yang diperkuat Gemini bisa menjawab pertanyaan filosofis, membantu menulis puisi, atau bahkan merencanakan liburan secara detail. Kemampuan ini membuat Siri terlihat seperti peninggalan masa lalu.
Bagi pengguna iPhone di Indonesia, situasi ini menimbulkan pertanyaan: apakah perangkat sekelas flagship masih relevan jika fitur andalannya tertinggal? Banyak pengguna yang mengaku lebih sering menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk tugas-tugas produktivitas, alih-alih mengandalkan Siri. Mereka lebih memilih mengetik perintah di ChatGPT daripada berbicara dengan Siri yang sering salah dengar atau memberikan jawaban tidak memuaskan.
Perubahan ini bukan hanya soal gengsi, melainkan efisiensi. Asisten suara yang cerdas bisa menghemat waktu secara signifikan. Sementara itu, Siri justru sering menjadi hambatan kecil yang membuat pengguna frustrasi. Ironisnya, Apple sendiri kini tengah berlomba mengejar ketertinggalan dengan mengembangkan versi Siri yang lebih cerdas berbasis AI generatif, yang kabarnya akan hadir pada pembaruan iOS besar berikutnya.
Apple bukannya diam. Rumor dan laporan internal menunjukkan bahwa perusahaan yang berbasis di Cupertino itu tengah mengerjakan ulang Siri dari bawah ke atas dengan teknologi AI terbaru, yang dijuluki "Apple Intelligence". Proyek ini diharapkan bisa menyamai, atau bahkan melampaui, kemampuan asisten kompetitor.
Namun, hingga pembaruan besar itu benar-benar hadir, Siri akan terus menjadi fitur yang diabaikan. Pertanyaannya bukan lagi apakah Siri masih berguna, melainkan seberapa cepat Apple bisa menghadirkan kembali keajaiban yang dulu pernah ia ciptakan. Jika terlambat, bukan tidak mungkin pengguna akan semakin terbiasa hidup tanpa Siri.