MALUKU — Kebijakan kontroversial Pierluigi Collina di Piala Dunia 2026 perlahan menunjukkan data positif. Jika di edisi Qatar para pemain dan penonton terbiasa dengan papan tambahan waktu yang menunjukkan angka 10, 11, bahkan 12 menit, kini situasinya berbalik. Papan elektronik di stadion-stadion Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada hanya menunjukkan tambahan waktu lima hingga enam menit.
Collina tidak sekadar meminta wasit menambahkan waktu di akhir babak seperti di Qatar. Pendekatannya berbeda: ia menargetkan kebiasaan pemain yang memperlambat permainan. "Tujuannya adalah menghilangkan gangguan terhadap tempo pertandingan," ujar Collina sebelum turnamen dimulai.
Wasit kini menerapkan hitungan mundur lima detik untuk tendangan gawang dan lemparan ke dalam. Pemain yang cedera juga harus keluar lapangan minimal satu menit, ancaman bermain dengan 10 orang terbukti efektif sebagai efek jera. Hingga saat ini, baru satu tendangan gawang yang diubah menjadi tendangan pojok, tepatnya saat Republik Demokratik Kongo melawan Portugal.
Ukuran keberhasilan yang paling objektif adalah waktu bola dalam permainan. Di Rusia 2018, angkanya hanya 54 menit 50 detik. Di Qatar, dengan semua tambahan waktu, angka itu naik ke 58 menit 8 detik. Pada edisi 2026 ini, meski durasi total pertandingan lebih pendek, waktu efektif bermain justru hanya turun tipis ke 57 menit 22 detik.
Yang lebih menarik adalah persentasenya. Dengan rasio 59,38 persen, Piala Dunia 2026 mencatatkan proporsi bola dalam permainan tertinggi dibanding dua edisi sebelumnya. Qatar hanya 56,86 persen dan Rusia 56,25 persen. Artinya, 96 menit yang dihabiskan penonton di stadion kini lebih padat dengan aksi, bukan dengan pemain yang berlari-lari kecil mengulur waktu.
Perubahan juga terasa pada momen pergantian pemain. Tidak ada lagi tambahan 30 detik otomatis untuk setiap substitusi. Pemain yang diganti kini harus meninggalkan lapangan dalam 10 detik, sehingga wasit tidak lagi menambahkan waktu di akhir laga meski pergantian terjadi di masa injury time. Ancaman waktu istirahat paksa bagi pemain yang cedera juga membuat wasit lebih cepat memerintahkan pemain keluar, bahkan tanpa menunggu fisioterapis masuk. Sejauh ini, belum ada satu pun kasus pemain pengganti yang dilarang masuk karena proses pergantian terlalu lambat.
Meski sukses di turnamen dengan 48 tim, efektivitas kebijakan ini masih dipertanyakan jika diterapkan di kompetisi domestik seperti Premier League yang berlangsung 380 pertandingan dalam semusim. FIFA memang memiliki lebih banyak ofisial video dan teknologi canggih yang tidak tersedia di liga-liga biasa. Namun untuk Piala Dunia 2026, setidaknya Collina sudah membuktikan satu hal: sepak bola tidak harus selalu berdurasi panjang untuk menjadi menarik.