Ambon — Prof Dr Izaak Wenno, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura, menekankan kebutuhan mendesak untuk merancang sistem pendidikan yang relevan dengan kondisi unik Maluku. Dalam keterangan kepada wartawan usai upacara Hari Pendidikan Nasional di halaman Rektorat Unpatti, Sabtu (2 Mei 2026), dia mengakui tantangan pendidikan di wilayah kepulauan berbeda signifikan dari daerah lain.
Maluku terdiri dari ribuan pulau dengan tersebar di 11 kabupaten dan kota. Kondisi geografis yang teroterial ini memerlukan pendekatan pendidikan yang tidak bisa ditiru dari model daerah daratan homogen. "Konsep pendidikan kepulauan harus kita wacanakan untuk menjembatani mutu pendidikan di Maluku," kata Wenno.
Sinergi Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Lembaga Penjamin Mutu
Wenno menekankan bahwa mewujudkan pendidikan berkualitas di Maluku membutuhkan sinergi maksimal dari semua pemangku kepentingan. Dia mengharapkan kolaborasi aktif antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga penjamin mutu untuk bekerja bersama mengimplementasikan konsep pendidikan kepulauan di lapangan.
"Makanya pendidikan kepulauan yang kita gagasan di LPTK itu harus diwujudkan di 11 kabupaten dan kota, sehingga pemodelan pendidikan itu membantu suatu konsep pendidikan menuju pendidikan berkualitas atau bermutu," jelasnya.
Dia menekankan pentingnya tidak menganggap pendidikan sebagai hal sepele. "Memang banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan," katanya dalam percakapan dengan wartawan.
Perguruan Tinggi Dituntut Berdampak Nyata
Universitas Pattimura, sebagai lembaga pendidik calon guru, dihadapkan pada tantangan berdampak langsung terhadap pengembangan pendidikan. Wenno membedakan konsep dampak bukan sekadar kegiatan penelitian atau pengabdian yang terdokumentasi dalam laporan akademik.
"Bagaimana kita berdampak mengembangkan pendidikan bersama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota—itu yang harus kita lakukan," ujar Wenno. Dia menekankan bahwa hasil riset harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata untuk memajukan sektor pendidikan di Maluku.
Dinamika Pendidikan Berbeda dengan Daerah Lain
Wenno mengakui bahwa kemajuan pendidikan di Maluku memang memiliki lintasan berbeda dibanding wilayah lain. Namun, hal itu bukan berarti pendidikan Maluku tertinggal, melainkan butuh perhatian khusus pada variabel-variabel yang relevan dengan kondisi lokal.
"Pendidikan kita bergerak berbeda dengan daerah lain, karena kita daerah teritorial yang sangat membutuhkan sinergi dari pemerintah atau pengambil kebijakan," terangnya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan memerlukan kerja bersama-sama yang konsisten dan terukur.
Gagasan pendidikan berbasis kepulauan ini menjadi langkah penting bagi Unpatti dalam menerjemahkan mandatnya sebagai institusi pendidik di wilayah Timur Indonesia yang geografis kompleks.