LANGGUR — Proses evakuasi reptil buas itu berlangsung dramatis. Warga yang sudah memantau pergerakan buaya sejak subuh langsung bergerak cepat saat hewan itu muncul di perairan laut Sathean. Penangkapan dimulai pukul 06.23 WIT dan rampung dalam waktu kurang dari 40 menit, tepat pukul 07.00 WIT.
Nelayan Jadi Korban Paling Terdampak
Keberadaan buaya di kawasan sungai hingga laut membuat aktivitas warga, khususnya nelayan, lumpuh total. Rasa takut menyergap setiap kali mereka hendak melaut mencari ikan. Ketua Seksi Pelayanan Ohoi Sathean, Sovia Lermatan, menyebut situasi itu sempat memicu kecemasan luas.
“Informasi mengenai keberadaan buaya itu juga sempat ramai diperbincangkan warga karena dinilai berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat,” ujar Lermatan.
Kenapa Penangkapan Mandiri Dilakukan?
Upaya penangkapan sebenarnya sudah dirancang sebelumnya. Pihak desa telah meminta bantuan dari Lanal Tual untuk melakukan langkah antisipatif. Namun, tim dari TNI AL belum berhasil menangkap buaya tersebut saat pertama kali turun ke lokasi.
Kegagalan itu mendorong warga untuk tidak tinggal diam. Pada Sabtu pagi, mereka berinisiatif melakukan penangkapan secara mandiri setelah memantau pergerakan buaya dari jarak aman. Aparat desa turut mengawal proses ini agar tidak ada korban jiwa.
Langkah Selanjutnya: Relokasi atau Diserahkan ke BKSDA?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi mengenai nasib buaya yang telah diamankan. Rencananya, hewan tersebut akan diserahkan ke pihak berwenang untuk direlokasi ke habitat yang lebih jauh dari permukiman warga.
Perairan Sathean selama ini dikenal sebagai kawasan tangkapan ikan utama warga. Konflik antara manusia dan buaya kerap terjadi di Maluku Tenggara saat musim tertentu, ketika pasokan ikan di sungai menurun dan buaya mulai mencari mangsa ke laut.