JAKARTA — Pergerakan saham BBCA yang agresif diburu asing menjadi perhatian di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang mencapai level terlemahnya dalam beberapa pekan terakhir. Hingga akhir sesi perdagangan, saham emiten perbankan berkapitalisasi pasar terbesar itu mencatatkan penguatan, berbanding terbalik dengan mayoritas saham lain yang cenderung tertekan.
Investor Asing Kumpulkan Saham BBCA di Tengah Volatilitas
Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan pembelian bersih saham BBCA dengan volume besar. Aksi ini terjadi saat rupiah terdepresiasi ke kisaran Rp 16.250 per dolar AS, level yang belum pernah terlihat sejak krisis 2020 lalu.
Analis pasar modal menilai langkah asing mengoleksi BBCA didorong oleh fundamental emiten yang solid dan prospek dividen yang menarik. "BBCA tetap menjadi pilihan defensif di tengah gejolak pasar," ujar seorang analis dari perusahaan sekuritas nasional.
Rupiah Jeblok, IHSG Tertekan Sektor Komoditas
Pelemahan rupiah memberikan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup mixed. Sektor komoditas dan energi menjadi pemberat utama indeks, sementara sektor perbankan dan konsumer masih mampu menahan laju pelemahan lebih dalam.
Nilai tukar rupiah yang terus merosot memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya impor dan potensi inflasi. Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan pergerakan mata uang.
Kinerja BBCA dan Sentimen Pasar ke Depan
Sepanjang tahun ini, saham BBCA masih mencatatkan kinerja positif meskipun pasar modal global dilanda ketidakpastian. Investor asing disebut masih menanti data inflasi AS dan kebijakan suku bunga The Fed yang akan menentukan arah aliran modal ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Pelaku pasar kini mencermati rilis data ekonomi domestik pekan ini, termasuk neraca perdagangan dan cadangan devisa, yang bisa mempengaruhi pergerakan rupiah dan IHSG dalam jangka pendek.