MALUKU — Kekhawatiran investor akan runtuhnya gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran memicu aksi jual di hampir seluruh bursa Asia. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan ambles lebih dari 7%, disusul Nikkei 225 Jepang yang merosot 4,6%. Hang Seng Hong Kong turun 1,92%, dan CSI 300 Tiongkok melemah 1,5%.
Serangan rudal Iran ke Israel pada Minggu (7/6) disebut sebagai respons atas unggahan Ketua Parlemen Iran MB Ghalibaf di X. Ghalibaf menuding blokade angkatan laut AS dan dugaan pelanggaran perjanjian terkait Lebanon sebagai pelanggaran gencatan senjata. Kondisi ini membuat investor lari dari aset berisiko dan memilih safe haven.
Wall Street Juga Tertekan, Kontrak Berjangka Mixed
Tekanan sudah terlihat di Wall Street pada Jumat (5/6) setelah data ketenagakerjaan AS bulan Mei melampaui ekspektasi. Indeks Nasdaq Composite ambles 4,18% ke 25.709,43 — penurunan terdalam sejak April 2025. S&P 500 merosot 2,64% ke 7.383,74, sementara Dow Jones kehilangan 695 poin ke 50.866,78.
Kontrak berjangka Dow Jones masih tertekan pada Minggu (7/6) malam, turun 151 poin atau 0,3%. Namun kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 justru naik tipis masing-masing 0,04% dan 0,34%, menandakan pelaku pasar masih wait and see.
Inflasi dan Suku Bunga Tinggi Jadi Momok Tambahan
Callie Cox, Kepala Strategi Pasar di Ritholtz Wealth Management, menilai pasar saham menjadi korban dari kesuksesannya sendiri. "Pasar tenaga kerja telah pulih, namun ancaman inflasi yang terus tinggi tampaknya menjadi risiko yang menghantui pikiran semua orang," ujarnya seperti dikutip CNBC.
Cox menambahkan pertumbuhan dan momentum telah melampaui hampir semua hal sejak titik terendah Maret. "Itu bukan yang Anda harapkan dalam lingkungan suku bunga tinggi dan inflasi tinggi, dan strategi ini mungkin rentan terhadap kekecewaan jika tekanan biaya tetap tinggi," katanya.
IPO SpaceX dan Data Inflasi Jadi Sorotan Pekan Ini
Pekan ini investor akan mengamati debut publik SpaceX milik Elon Musk pada Jumat (12/6) yang diperkirakan menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah Wall Street. Cox memperingatkan penawaran saham besar kerap menandai puncak kelebihan dalam siklus pasar sebelumnya.
"Ada keheningan yang canggung seputar apa yang mungkin ditunjukkan oleh hal ini terhadap sentimen pasar," ujar Cox. Ia menilai banyak investor menahan diri dan skeptis, namun mempertanyakan apakah temperamen itu bisa bertahan menghadapi IPO terbesar sepanjang masa.
Data inflasi AS juga akan menjadi perhatian utama dengan rilis Indeks Harga Konsumen pada Rabu (10/6) dan Indeks Harga Produsen pada Kamis (11/6). Keduanya diperkirakan menunjukkan tekanan inflasi yang masih berkelanjutan, memperkuat kekhawatiran suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.