Pencarian

Prabowo Sebut Kritik Kunjungan ke Luar Negeri Aneh, Singgung Jokowi yang Jarang Bepergian

Rabu, 10 Juni 2026 • 20:48:01 WIB
Prabowo Sebut Kritik Kunjungan ke Luar Negeri Aneh, Singgung Jokowi yang Jarang Bepergian
Prabowo menanggapi kritik kunjungan luar negeri dengan membandingkan frekuensi perjalanan Presiden Jokowi.

MALUKU — Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional ke-XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Hotel Novotel, Lampung, Rabu (10/6/2026). Ia mencontohkan, dulu banyak pihak yang menyalahkan Jokowi karena dinilai tidak peduli dengan politik luar negeri. Kini, saat dirinya gencar melakukan kunjungan ke luar negeri, kritik justru datang dari arah yang sama.

"Jadi, ada Presiden kayak Pak Jokowi yang jarang ke luar negeri, disalahkan ya kan 'Jokowi enggak pernah ke luar negeri. Jokowi tidak peduli politik luar negeri'," ujar Prabowo. "Saya sering ke luar negeri, 'Prabowo sering ke luar negeri'. Aneh, sebenarnya tidak ada masalah gitu, bener enggak," sambungnya.

Dinamika Geopolitik dan Prinsip Non-Blok

Prabowo menjelaskan bahwa saat ini dinamika geopolitik global sedang kacau. Menurutnya, pemimpin negara harus pandai membaca siapa lawan dan siapa kawan. Ia kembali menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia menganut prinsip non-blok.

"Politik luar negeri Indonesia adalah politik non aligned, politik non-blok kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan, kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapapun," tutur dia. "1.000 kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh," imbuh Prabowo.

Seskab: Bukan Sekadar Seremonial, Ada Agenda Mendesak

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya turut memberikan klarifikasi terkait frekuensi kunjungan Prabowo. Dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosial Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026), Teddy menjelaskan bahwa jadwal kunjungan presiden sudah direncanakan setahun sebelumnya. Namun, ada juga agenda mendesak yang muncul karena situasi global yang sangat dinamis.

"Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Nah, jadi ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," jelas Teddy. Ia menyebutkan sejumlah krisis dunia yang dihadapi Prabowo di awal masa jabatannya, mulai dari konflik di Ukraina, konflik Venezuela-Amerika Serikat, hingga ketegangan di Timur Tengah.

Membangun Kedekatan Personal untuk Antisipasi Krisis

Teddy membantah anggapan bahwa kunjungan Prabowo hanya bersifat seremonial. Menurutnya, diplomasi membutuhkan kedekatan personal dan emosional antar pemimpin dunia. Tanpa hubungan yang baik, Indonesia akan kesulitan meminta bantuan saat krisis melanda.

"Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia. Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," ujar Teddy.

Ia menegaskan bahwa selama 1,5 tahun terakhir, banyak hasil konkret yang telah dicapai dari kunjungan Prabowo ke berbagai negara. "Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks