NAMLEA — Program pembinaan di Lapas Kelas III Namlea, Kabupaten Buru, tidak hanya berhenti pada kegiatan pertanian. Kini, budidaya ikan nila dengan sistem bioflok menjadi andalan baru yang terus diperkuat untuk membekali warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan keterampilan usaha.
Kepala Lapas Namlea, Muhammad M. Marasabessy, mengatakan pengembangan sektor perikanan ini merupakan bagian dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Menurutnya, program ini diarahkan agar para narapidana memiliki modal usaha yang bisa langsung dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.
"Perikanan menjadi salah satu aspek yang harus kami laksanakan. Karena itu, selain pertanian, kami tetap konsisten mengembangkan budidaya ikan nila sebagai program pembinaan unggulan di Lapas Namlea," ujar Marasabessy saat dihubungi dari Ambon, Jumat.
Kolam Bioflok: Teknologi Budidaya Ramah Lingkungan
Saat ini, Lapas Namlea membudidayakan sekitar 4.000 ekor ikan nila yang tersebar di enam kolam bioflok. Rinciannya, 1.000 ekor nila super, 3.000 ekor ikan nila ukuran dewasa, dan sekitar 500 ekor benih.
Sistem bioflok yang diterapkan memanfaatkan kumpulan mikroorganisme untuk mengolah limbah organik di dalam kolam menjadi gumpalan (flok) yang berfungsi sebagai pakan alami ikan. Setiap kolam dilengkapi aerasi untuk menjaga kadar oksigen, sementara kualitas air dikontrol melalui penambahan probiotik dan sumber karbon.
Metode ini dinilai mampu meningkatkan kepadatan tebar ikan, menghemat penggunaan air dan pakan, serta menjaga kualitas lingkungan budidaya. Hasilnya, ikan yang dipanen memiliki ukuran yang besar dan berkualitas baik.
Respons Positif Masyarakat Jadi Indikator Keberhasilan
Marasabessy mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap hasil budidaya warga binaan menjadi indikator bahwa program pembinaan berjalan efektif. Produk yang dihasilkan tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga diterima dengan baik oleh konsumen di luar lapas.
"Respons positif masyarakat terhadap hasil budidaya perikanan menunjukkan bahwa pemberdayaan warga binaan mampu menghasilkan produk yang bermanfaat sekaligus memberikan nilai tambah bagi proses pembinaan," katanya.
Penyuluh Pertanian Ahli Muda Dinas Pertanian Kabupaten Buru, Alijah, turut mengapresiasi pengelolaan budidaya ikan nila yang dilakukan warga binaan. Menurutnya, kualitas ikan yang dihasilkan membuktikan program pembinaan telah berjalan secara optimal.
"Budidayanya cukup menjanjikan dan ukuran ikannya juga besar-besar. Ini menjadi bukti bahwa warga binaan mampu mengembangkan keterampilan di berbagai bidang, termasuk sektor perikanan," ujar Alijah.
Ke depan, Marasabessy berharap pengembangan budidaya ikan nila dapat terus ditingkatkan. Selain mendukung ketahanan pangan di lingkungan lapas, program ini diharapkan membekali warga binaan dengan keterampilan usaha yang menjadi modal saat kembali ke tengah masyarakat.