AMBON — Empat diakon asal Maluku akan resmi ditahbiskan menjadi imam MSC dalam sebuah misa suci yang dipimpin langsung oleh Uskup Amboina, Mgr Seno Ngutra. Perayaan Ekaristi ini digelar di Gereja Bunda Hati Kudus, Desa Batlale, Pulau Buru, pada Sabtu, 18 Juli 2026, pukul 16.00 WIT.
Keempat calon imam tersebut adalah Petrus Eki Lehalima MSC, Yohanes Esserey MSC, Belly Yoakhim Resubun MSC, dan Teofilus Manunwembun MSC. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Maluku, mulai dari Pulau Buru, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, hingga Kepulauan Tanimbar.
Prosesi Sakral dan Ritus Pentahbisan
Pentahbisan ini menjadi wujud syukur atas panen panggilan imamat di wilayah Keuskupan Amboina. Rangkaian ritus akan diawali dengan pemanggilan para calon, pemeriksaan kelayakan, penumpangan tangan, hingga pengurapan minyak suci.
Ratusan umat diperkirakan akan memadati area gereja Bunda Hati Kudus. Para imam dan keluarga dari para tertahbis turut mendampingi jalannya prosesi yang berlangsung sakral tersebut.
Asal-usul Calon Imam dari Empat Wilayah Berbeda
RP Petrus Eky Lehalima, MSC, berasal dari Desa Batlale, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru. Desa ini dikenal memiliki potensi hutan alam dan vegetasi sagu yang lebat sebagai penopang ketahanan pangan lokal.
RP Yansen Esserey, MSC, berasal dari Desa Karlomin, Kecamatan Kesui, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Wilayah ini terkenal dengan potensi perkebunan pala dan cengkeh, serta sektor perikanan tangkap seperti tuna dan cakalang. Yansen Esserey merupakan keponakan dari RP Gerardus Esserey, MSC.
RP Belly Yoakhim Resubun, MSC, berasal dari Ohoi (Desa) Ngilngof, Kecamatan Manyeuw, Maluku Tenggara. Desa ini terkenal sebagai destinasi wisata unggulan dengan Pantai Ngurbloat yang memiliki pasir putih sehalus tepung.
RP Teofilus Manunwembun, MSC, berasal dari Desa Tumbur di Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Desa yang berjarak sekitar 18—25 km dari Kota Saumlaki ini dikenal sebagai pusat kerajinan ukir kayu eboni yang mendunia.
Empat Motto yang Menyertai Panggilan
Setiap calon imam mengusung motto pelayanan yang menjadi pegangan hidup mereka. Petrus Eki Lehalima mengutip Yohanes 21:17, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."
Yohanes Esserey memilih Pengkotbah 3:1,11, "Segala sesuatu ada masanya, dan Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Sementara Belly Yoakhim Resubun mengangkat Lukas 1:38, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Teofilus Manunwembun memilih Yesaya 42:3, "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya." Motto-motto ini mencerminkan komitmen mereka dalam melayani umat di Keuskupan Amboina.