JAKARTA — Rupiah berhasil mempertahankan tren positif di hadapan dolar AS pada perdagangan Jumat pagi. Berdasarkan data Antara, mata uang Garuda bertengger di posisi Rp17.980 per dolar AS, menguat tipis dari penutupan sebelumnya di Rp17.986.
PPI AS Lebih Rendah dari Ekspektasi Jadi Katalis Positif
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan, sentimen utama penguatan rupiah berasal dari rilis data Producer Price Index (PPI) AS periode Juni 2026. Inflasi di tingkat produsen ini tercatat di bawah perkiraan analis.
“PPI tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar, sehingga memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi di AS terus mereda,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Harga Energi Turun, Dolar AS Tertekan
Mengutip Anadolu, harga produsen AS secara tak terduga menurun pada Juni 2026. Ini merupakan kali pertama dalam hampir setahun, yang sebagian besar dipicu oleh penurunan biaya energi. Data tersebut mendorong mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat terhadap dolar.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru meningkat. Iran melancarkan serangan terhadap kapal tanker AS di dekat terminal ekspor minyaknya. AS membalas dengan menyerang aset militer Iran, yang kemudian memicu serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania.
Data Penjualan Ritel AS Melambat
Dari sisi fundamental ekonomi, data Retail Sales AS bulan Juni 2026 tumbuh 0,2 persen month-on-month (MoM). Angka ini melambat signifikan dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang di