Pencarian

Bos Qualcomm Ramalkan Era 6G: Kacamata Pintar Akan Ubah Kita Jadi Kamera Berjalan

Senin, 20 Juli 2026 • 11:02:31 WIB
Bos Qualcomm Ramalkan Era 6G: Kacamata Pintar Akan Ubah Kita Jadi Kamera Berjalan
Cristiano Amon, CEO Qualcomm, menyampaikan visinya tentang peran jaringan 6G dalam pengembangan kacamata pintar di masa depan.

MALUKU — Qualcomm selama ini dikenal sebagai pemasok utama chip Snapdragon yang menjadi otak dari sebagian besar ponsel Android di era 4G dan 5G. Kini, sang CEO, Cristiano Amon, mulai memproyeksikan masa depan setelah 5G, yaitu era 6G yang diperkirakan hadir pada dekade 2030-an. Dalam wawancara dengan Fox Business, Amon melukiskan visi yang berani tentang bagaimana konektivitas generasi baru ini akan mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi wearable.

6G sebagai Tulang Punggung Kacamata Pintar Masa Depan

Menurut Amon, kecepatan super tinggi dan latensi yang sangat rendah dari jaringan 6G adalah kunci untuk mewujudkan kacamata pintar yang selalu terhubung. Teknologi ini memungkinkan perangkat untuk mentransmisikan data dalam jumlah besar secara instan, termasuk video definisi tinggi yang diambil dari kamera di kacamata.

"6G is going to make all of us into walking cameras," ujar Amon, menggambarkan perangkat ini sebagai kamera yang selalu aktif untuk mendukung kebutuhan AI pengguna. Secara teori, jaringan 6G mampu mencapai kecepatan puncak hingga 1 Tbps dengan memanfaatkan spektrum sub-terahertz, yang membuat visi ini secara teknis memungkinkan.

Dari Google Glass ke Ray-Ban Meta: Evolusi yang Belum Tuntas

Kacamata pintar sebenarnya bukan barang baru. Produk seperti Google Glass yang diperkenalkan sekitar satu dekade lalu gagal karena desain yang aneh dan masalah privasi. Kini, gelombang baru hadir dengan bentuk yang lebih stylish, seperti yang terlihat pada kolaborasi Meta dan Ray-Ban.

Meskipun desainnya sudah lebih mirip kacamata biasa, fitur kameranya tetap menuai kontroversi. Sejumlah pemilik Ray-Ban Meta mengaku enggan memakainya di tempat umum karena khawatir dianggap merekam tanpa izin. Ini menunjukkan bahwa masalah penerimaan sosial masih menjadi hambatan besar, terlepas dari seberapa canggih teknologi di baliknya.

Hambatan Privasi dan Penerimaan Publik

Visi Amon tentang kacamata yang terus-menerus merekam data jelas membuka kembali perdebatan tentang privasi. Meskipun koneksi 6G dapat menyediakan infrastruktur yang diperlukan, faktor manusia dan regulasi justru menjadi tantangan yang lebih kompleks.

Untuk benar-benar lepas landas, industri tidak hanya perlu menyempurnakan teknologi chip dan jaringan, tetapi juga harus meyakinkan publik bahwa perangkat ini aman, etis, dan tidak mengganggu privasi orang lain. Tanpa solusi untuk masalah ini, kacamata pintar berpotensi bernasib sama seperti pendahulunya: canggih di atas kertas, namun sulit diterima di jalanan.

Bagikan
Sumber: techradar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks