JAKARTA — Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Berdasarkan data pasar uang Senin pagi, rupiah ditutup di level Rp17.977 per dolar AS, turun dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di Rp17.921 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut faktor eksternal menjadi biang kerok utama pelemahan ini. “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.900-Rp18 ribu dipengaruhi faktor global eskalasi konflik geopolitik yang berakibat pada kenaikan harga minyak dan indeks dolar yang menguat,” jelasnya kepada Antara di Jakarta, Senin.
Serangan Balasan di Selat Hormuz Memicu Ketidakpastian Pasar
Ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan dimulainya serangkaian serangan baru terhadap Iran. Langkah ini disebut untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan membalas serangan terhadap anggota militer AS di Yordania.
Tak tinggal diam, Iran membalas dengan melancarkan serangan drone berskala besar ke dua instalasi militer AS di Kuwait, termasuk gudang amunisi di Camp Al Adiri serta sistem rudal Patriot di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Aksi saling serang ini langsung mendorong harga minyak mentah dunia naik dan memperkuat posisi dolar sebagai aset safe haven.
Pasar Berebut Sinyal Kenaikan Suku Bunga BI
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sinyal kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (22/7) diprediksi akan menaikkan suku bunga menjadi 6 persen.
“Alasan utama kenaikan suku bunga acuan diantaranya inflasi, nilai rupiah, dan volatility pasar saham seiring dengan review oleh lembaga rating global,” imbuh Rully. Langkah ini diharapkan mampu menahan laju inflasi dan menstabilkan nilai tukar di tengah gejolak global.
Rupiah Terancam Tembus Level Rp18.000
Dengan kombinasi tekanan eksternal dari perang dagang dan konflik bersenjata serta antisipasi kebijakan moneter domestik, pergerakan rupiah diperkirakan masih volatil. Pasar kini menanti keputusan BI sebagai sinyal apakah ada intervensi lebih lanjut untuk menjaga rupiah agar tidak menembus psikologis Rp18.000 per dolar AS.