Nilai tukar rupiah dibuka melemah 57 poin atau 0,32 persen ke level Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan Senin di Jakarta, melanjutkan tekanan di tengah sikap hawkish bank sentral AS dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Analis menilai pelemahan ini dipicu pernyataan Kepala The Fed yang menegaskan kesiapan untuk bertindak lebih lanjut guna menekan inflasi. Pasar kini mencermati perkembangan serangan militer AS terhadap Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terasa pada pembukaan perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda dibuka melemah 57 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp17.750 per dolar AS, turun dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.693 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah dua sentimen besar yang saling bertumpuk. Dari dalam negeri Amerika Serikat, sikap hawkish bank sentralnya masih membayangi pasar negara berkembang, sementara ketegangan geopolitik di Asia Barat kembali memanas dan memicu aksi lari menuju aset aman.
Sinyal The Fed: Inflasi Masih Jauh dari Target
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai pernyataan Kepala Federal Reserve (The Fed) menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole, Warsh menegaskan bahwa The Fed "harus bertindak lebih lanjut" jika diperlukan agar inflasi bisa bergerak turun menuju tingkat 2 persen.
"Warsh mengatakan bahwa The Fed 'harus bertindak lebih lanjut' jika diperlukan agar inflasi bisa bergerak turun menuju tingkat 2 persen," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Kekhawatiran itu beralasan. Indikator inflasi acuan The Fed tercatat sebesar 3,7 persen selama 12 bulan terakhir. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dalam periode enam bulan terakhir, yakni mencapai 4,1 persen—jauh melampaui target bank sentral yang tegas di angka 2 persen.
Warsh juga mengevaluasi kondisi ekonomi AS secara menyeluruh. Meskipun pasar tenaga kerja dinilai tetap stabil dan tingkat output ekonomi solid, laju inflasi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan dan membutuhkan keyakinan kuat bahwa laju kenaikan harga benar-benar melambat dengan kecepatan yang memadai.
Konflik Iran-AS Panaskan Harga Minyak
Faktor eksternal lain yang ikut menekan rupiah adalah eskalasi geopolitik di Asia Barat. Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), menandai serangan pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.
Operasi militer itu menargetkan sistem yang disinyalir sedang disiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi ekspor minyak dunia. Serangan ini dilakukan setelah periode jeda selama sebulan dalam keterlibatan militer langsung antara kedua negara.
Respons pun tak terhindarkan. Dilaporkan bahwa pasukan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania. Ketegangan yang meningkat ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan mendorong harga komoditas energi naik, yang pada gilirannya menambah tekanan pada mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Prediksi Pergerakan Rupiah Pekan Ini
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, analis memperkirakan rupiah akan berkisar di level Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar diprediksi masih akan volatil seiring perkembangan situasi geopolitik dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta pernyataan pejabat The Fed lainnya yang dapat memberikan sinyal arah kebijakan moneter AS ke depan. Tekanan terhadap mata uang negara berkembang diperkirakan masih akan berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda.