MALUKU — Keputusan ini disampaikan langsung oleh Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, Rabu (29/7/2026). Menurutnya, stabilitas nilai tukar tetap menjadi prasyarat utama sebelum pertumbuhan ekonomi bisa berkelanjutan.
"Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Erwin dalam keterangan resmi.
Bauran Instrumen Diperluas, Bunga Bukan Satu-satunya Andalan
Selama ini, pasar kerap menyoroti keputusan BI Rate sebagai satu-satunya sinyal kekuatan rupiah. Namun, Erwin menegaskan bahwa pendekatan tersebut kini diperluas. BI mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan likuiditas secara simultan.
"Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," kata dia.
Langkah ini mencakup operasi pasar terbuka, pengelolaan likuiditas perbankan, serta instrumen sekuritas valas yang dimiliki BI. Tujuannya: menjaga agar pergerakan rupiah tetap konsisten dengan target inflasi nasional.
Tekanan Global Belum Reda, Stabilitas Jadi Prioritas
Ketidakpastian global—mulai dari arah suku bunga The Fed hingga gejolak harga komoditas—masih menjadi faktor eksternal yang membayangi rupiah. Dalam kondisi seperti ini, BI memilih tidak bereaksi secara reaktif dengan menaikkan suku bunga secara agresif.
Sebaliknya, likuiditas di sektor keuangan dijaga agar tetap longgar untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik, namun di sisi lain ketat dalam mengelola pasokan valuta asing. Ini adalah strategi penyeimbang yang membutuhkan koordinasi erat antara instrumen moneter dan fiskal.
Apa Artinya Bagi Pasar dan Investor?
Bagi pelaku pasar, sinyal ini menunjukkan bahwa BI tidak akan serta-merta mengerek suku bunga acuan hanya karena tekanan kurs jangka pendek. Implikasinya, biaya pinjaman perbankan berpotensi tetap stabil dalam waktu dekat.
Namun, investor obligasi dan valas perlu mencermati frekuensi intervensi BI di pasar sekunder. Semakin sering BI mengoptimalkan instrumen likuiditas, semakin besar sinyal bahwa stabilitas rupiah dijaga secara aktif—bukan sekadar reaktif terhadap lonjakan dolar AS.