MALUKU — Kasus yang sempat berkembang dengan tuduhan berat seperti kekerasan seksual, penguntitan, hingga perdagangan seks ini berakhir tanpa vonis pengadilan. Pengacara Lauren, Arick Fudali, hanya menyatakan perkara telah diselesaikan tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Sementara itu, perwakilan Kanye West belum memberikan komentar resmi.
Kronologi Tuduhan yang Terus Berkembang
Lauren menggugat Kanye pada Juni 2024 setelah bekerja sebagai asisten pribadi selama periode 2021 hingga 2023. Gugatan awal mencakup tuduhan pelecehan seksual, pelanggaran kontrak kerja, dan pemecatan yang disebut tidak sah. Tim kuasa hukum Kanye sejak awal membantah seluruh tuduhan dan menyebut gugatan itu sebagai upaya pemerasan.
Pihak Kanye menyatakan Lauren dipecat karena tidak memenuhi kualifikasi dan meminta bayaran tidak masuk akal, termasuk gaji tahunan sebesar US$4 juta atau setara Rp72 miliar. Mereka juga mengklaim memiliki dokumentasi perilaku Lauren yang dinilai tidak pantas selama bekerja.
Setahun kemudian, Lauren memperbarui gugatannya dengan tuduhan yang lebih berat. Ia menuding Kanye melakukan penguntitan, kekerasan seksual, hingga penyekapan. Dalam dokumen pengadilan yang dikutip Page Six, Lauren mengaku kerap menerima komentar vulgar, diminta mengenakan pakaian ketat, dan beberapa kali diraba tanpa persetujuan. Ia juga mengklaim dipaksa menyaksikan aktivitas seksual Kanye dengan perempuan lain.
Tuduhan paling serius muncul empat bulan kemudian, ketika Lauren menambahkan klaim pernah dibius dan dilecehkan saat menghadiri sesi rekaman di studio milik Sean Combs atau P Diddy. Seluruh tuduhan tersebut kembali dibantah habis-habisan oleh tim kuasa hukum Kanye.
Kontroversi yang Belum Usai
Penyelesaian kasus ini menambah catatan panjang kontroversi yang membayangi Kanye dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, ia menuai kecaman global setelah mengunggah pernyataan antisemit di media sosial. Akibatnya, kerja sama dengan merek besar seperti Adidas dan Balenciaga diputus, sementara akun media sosialnya sempat dibatasi.
Memasuki awal 2025, Kanye sempat mencabut permintaan maafnya kepada komunitas Yahudi dan kembali membuat pernyataan kontroversial di platform X. Namun, pada Januari 2026, ia menerbitkan iklan satu halaman penuh di The Wall Street Journal berisi permintaan maaf atas komentar antisemit maupun pernyataan ofensif lainnya. Dalam surat tersebut, ia mengaitkan perilakunya dengan masalah kesehatan mental dan menyatakan komitmen menjalani pengobatan.
Jadwal Konser Jakarta Tetap Berlanjut
Di tengah penyelesaian kasus hukum, Kanye tetap dijadwalkan menggelar konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 24 Oktober 2026. Penjualan tiket telah dibuka mulai Rabu, 29 Juli 2026, pukul 10.00 WIB.
Namun, kepastian panggung tersebut masih dipertanyakan mengingat sejumlah negara menolak kedatangannya. Penampilannya di Wireless Festival 2026 dibatalkan setelah pemerintah Inggris melarangnya masuk. Konser di Polandia dan Swiss juga batal karena gelombang protes, sedangkan jadwal di Prancis ditunda dan konser di Italia dibatalkan dengan alasan keamanan.
Album terbarunya, Bully, dirilis pada Maret 2026 setelah lebih dulu diperkenalkan melalui siaran langsung di YouTube. Belum ada pernyataan resmi dari promotor konser Jakarta mengenai dampak penyelesaian kasus ini terhadap rencana penampilan Kanye di Indonesia.