AMBON — Maluku tengah menggenjot nilai ekspor yang mencapai 55,63 juta dolar AS sepanjang 2025. Angka itu dinilai belum optimal karena masih berfluktuasi, tercermin dari capaian triwulan I 2026 yang baru menyentuh 10,79 juta dolar AS.
Kepala BKHIT Maluku Willy Indra Yunan menegaskan, besar kecilnya potensi komoditas bukan satu-satunya penentu laju ekspor. Kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar seluruh proses pengiriman berjalan sesuai aturan negara tujuan.
"Percepatan ekspor tidak hanya bergantung pada potensi komoditas, tetapi juga pada kuatnya sinergi antarinstansi," ujar Willy di Ambon, Sabtu.
Peran Karantina dalam Menembus Pasar Global
Dalam rapat koordinasi Tim Percepatan Ekspor yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Maluku Nomor 181 Tahun 2026, Willy memaparkan sejumlah peran strategis institusinya. Mulai dari tindakan karantina, pemeriksaan kesehatan media pembawa, pengawasan lalu lintas komoditas, hingga penerbitan sertifikat kesehatan.
Sertifikat kesehatan menjadi dokumen krusial yang dipersyaratkan banyak negara tujuan. Tanpa dokumen ini, produk unggulan Maluku berisiko ditolak atau tertahan di pelabuhan negara importir.
Layanan Cepat Tanpa Mengorbankan Pengawasan
BKHIT Maluku berkomitmen menyederhanakan layanan tanpa mengurangi aspek pengawasan. Willy menegaskan pelaku usaha tetap mendapat kepastian layanan, sementara mutu komoditas yang dikirim sesuai ketentuan internasional.
"Kami terus melakukan penyederhanaan pelayanan tanpa mengurangi aspek pengawasan. Dengan demikian pelaku usaha memperoleh kepastian layanan, sementara komoditas yang dikirim tetap memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan sesuai ketentuan internasional," katanya.
Komoditas Andalan: dari Pala hingga Mutiara
Maluku memiliki beragam produk berorientasi ekspor. Dari sektor perkebunan, ada pala, cengkih, dan kelapa. Sementara dari sektor perikanan, tuna, cakalang, rumput laut, serta mutiara memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku Achmad Jais Ely menyebut momentum ini harus dimanfaatkan seluruh pihak untuk membenahi tata niaga dan meningkatkan kualitas komoditas. Menurutnya, pelayanan ekspor yang efektif akan memperluas akses pasar dan menambah nilai tambah produk daerah.
"Melalui forum ini diharapkan terbangun kolaborasi yang semakin kuat antarinstansi, sehingga mampu mempercepat pertumbuhan ekspor, memperluas akses pasar, meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Achmad.
Sinergi Lintas Sektor Kunci Pertumbuhan Ekonomi Maluku
Achmad menambahkan, pembenahan tata niaga dan penguatan koordinasi menjadi pekerjaan rumah bersama. Targetnya jelas: mewujudkan Maluku yang maju, mandiri, dan berdaya saing melalui peningkatan ekspor yang berkelanjutan.
Forum Tim Percepatan Ekspor ini diharapkan menjadi wadah efektif untuk menyatukan langkah pemerintah daerah, instansi teknis, dan pelaku usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional.