Sebanyak 5.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Ambon dikabarkan telah mengadopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk transaksi digital. Perubahan ini ditandai dengan mulai tersebarnya kode pembayaran di warung makan, kedai kopi, hingga lapak-lapak di ruang publik sepanjang tahun 2025.
AMBON — Kebiasaan bertransaksi warga Ambon berangsur bergeser dalam beberapa bulan terakhir. Di sudut meja kasir warung makan dan lapak kuliner malam, kini kerap tampak selembar kode QRIS yang dipindai pelanggan melalui ponsel. Fenomena ini bukan hanya mengubah cara bayar, tetapi juga menandai langkah baru UMKM lokal memasuki ekosistem ekonomi digital.
Gebrakan ini tidak lepas dari sinergi Pemerintah Kota Ambon dan Bank Indonesia Perwakilan Maluku. Sejak Maret 2026, keduanya bergerak aktif mendampingi para pedagang kecil, tidak hanya sekadar mengenalkan teknologi, tetapi juga memastikan mereka siap bersaing di pasar yang semakin modern.
Edukasi dan Pendampingan Digencarkan di Tiga Titik RTP
Bank Indonesia Perwakilan Maluku bersama Pemkot Ambon memfokuskan edukasi perlindungan konsumen dan pendampingan akuisisi merchant QRIS di sejumlah ruang publik. Beberapa lokasi yang dijadikan laboratorium hidup ekonomi digital adalah Ruang Terbuka Publik (RTP) Wainitu, Air Salobar, dan kawasan Amahusu.
Di lokasi-lokasi itu, para pelaku UMKM tidak hanya diberi pemahaman teknis cara memindai dan menerima pembayaran. Lebih dari itu, mereka diajak memahami perlindungan konsumen dan cara mengelola usaha secara lebih tertib lewat pencatatan transaksi digital.
Mengapa Digitalisasi Mendesak bagi Pedagang Ambon?
Bagi pemerintah kota, keberadaan UMKM merupakan tulang punggung ekonomi lokal. Menyediakan lapak berdagang saja dinilai tidak cukup jika tidak diimbangi kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Padahal, kebiasaan warga bertransaksi sudah berubah. Pembeli kini lebih sering mengarahkan kamera ponsel ke kode hitam putih daripada mengeluarkan dompet. Jika pedagang tidak mengikuti, mereka berisiko tertinggal dan kehilangan pelanggan yang mulai terbiasa dengan transaksi nontunai.
Transisi ini juga membuka peluang bagi UMKM untuk melompat lebih jauh. Lewat satu kode QRIS, data penjualan tercatat rapi, akses ke pembiayaan formal pun terbuka lebih lebar karena riwayat transaksi bisa dijadikan acuan perbankan.
Apa Dampaknya bagi Ekonomi Harian Warga?
Dampak paling terasa adalah kecepatan dan efisiensi. Urusan kembalian atau uang receh yang selama ini menjadi hambatan, terutama di jam sibuk pagi hari, kini bisa dihilangkan. Seorang pembeli cukup memindai kode dan transaksi selesai dalam hitungan detik.
Geliat ini menjadi pertanda bahwa kota di pesisir Maluku ini tidak ingin ketinggalan dari kota-kota besar di Jawa. Ambon Manise, julukan kota ini, kini perlahan menapaki jalan menuju masa depan ekonomi yang lebih terhubung dan inklusif.