MALUKU — Kalijaran, Cilacap — Anak perusahaan Pertamina di sektor niaga bahan bakar ini menempatkan energi baru terbarukan bukan sekadar sebagai proyek simbolis, melainkan alat produksi pertanian. Program MAPAN (Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan) menyambung pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga bayu dengan kebutuhan sawah, hortikultura, hingga pengolahan pascapanen.
Langkah itu diambil untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani setempat: irigasi terbatas, usaha tani yang belum terdiversifikasi, dan perubahan iklim yang mengancam hasil panen.
Energi Hybrid untuk Irigasi hingga Pakan Ternak
Lewat skema hulu-hilir, listrik dari PLTS dan PLTB dipakai menggerakkan pompa irigasi. Dari situ rantai produksi berlanjut ke penggilingan gabah, pemanfaatan dedak untuk pakan dan pupuk, pengolahan limbah pertanian, sampai budidaya perikanan dan bebek.
Di sisi hilir, warga didorong mengolah hasil tani menjadi keripik, telur asin, beras kemasan, dan produk MPASI. Total kapasitas sistem energi terbarukan yang terpasang mencapai 15.250 Wp.
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati menyebut pendekatan ini sengaja dirancang agar masyarakat tidak berhenti jadi penerima manfaat.
"Di Kalijaran, energi terbarukan kami integrasikan dengan kebutuhan pertanian, mulai dari irigasi, produksi pangan, pengelolaan limbah, hingga pengembangan usaha masyarakat. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program," ujar Dian dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9/2026).
Hemat Rp 9 Juta, 233 Warga Kebagian Manfaat
Dampak ekonominya terasa langsung di kantong petani. Penggantian pompa diesel dengan sistem energi terbarukan menghemat sekitar Rp 9 juta per dua siklus tanam. Debit air yang dihasilkan rata-rata 150.000 liter per hari, sementara pengurangan emisi tercatat 2.860 kg CO2e per tahun.
Dari sisi penerima manfaat, program ini menyentuh 233 orang yang terdiri atas petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, balita dan anak-anak, serta warga miskin. Sejumlah kelompok dilibatkan, antara lain GAPOKTAN Margo Sugih, Kelompok Ternak Mintih Mulia, KWT Tandur Makmur, dan KWT Mekar Jaya Lestari.
Delapan Stakeholder, Tiga Lahan Replikasi
MAPAN tidak berjalan sendiri. Pemerintah, akademisi, dan komunitas turut ambil bagian. Sejauh ini delapan stakeholder terlibat, dua kelompok baru terbentuk, dan praktik pertanian hortikultura direplikasi di tiga area lahan.
Dian menegaskan keberlanjutan jadi kunci agar inovasi tidak berhenti di satu desa.
"Keberlanjutan menjadi bagian penting dari program ini. Karena itu, kami mendorong penguatan kapasitas kelompok dan kolaborasi dengan berbagai pihak agar inovasi yang sudah berjalan dapat terus dikembangkan dan direplikasi. Harapannya, Kalijaran dapat menjadi contoh bagaimana pemanfaatan EBT dapat berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat," jelasnya.
Bagi Pertamina Patra Niaga, MAPAN adalah cara menempatkan transisi energi di level akar rumput — bukan hanya soal pembangkit besar, tapi juga soal pompa air yang mengalir ke sawah dan pendapatan petani yang naik. Jika model Kalijaran bisa diperbanyak, ketahanan pangan dan target energi hijau bisa jalan bersamaan.