MALUKU — PLN Energi Primer Indonesia bersama Danantara Development Management Fund dan tiga mitra lain menandatangani komitmen pengembangan sistem pengelolaan sampah terdesentralisasi di Kota Bandung. Kerja sama ini menyiapkan sampah kota sebagai sumber energi sekunder, memperluas pemanfaatan biomassa yang selama ini didominasi limbah agro.
Berapa Banyak Biomassa yang Sudah Terserap PLN
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyebut pihaknya telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa dalam satu tahun terakhir. Hampir seluruhnya, sekitar 99 persen, berasal dari limbah agro.
Angka itu masih kecil dibanding potensi yang tersedia. Limbah agro di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 80 juta ton per tahun.
"Dari semua yang kita paparkan, kita baru deploy 2,5 juta ton. Ternyata potensi limbah agro kita bisa menyentuh 80 juta ton per tahun," ujar Hokkop dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Selama ini PLN EPI mengembangkan rantai pasok biomassa untuk mendukung substitusi sebagian bahan bakar fosil pada pembangkit melalui program cofiring.
"Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring," kata Hokkop.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Rantai Pasok
Ekosistem biomassa PLN EPI tidak hanya melibatkan korporasi besar. Saat ini tercatat sekitar 180 kontrak aktif dalam rantai pasok biomassa, dengan sekitar 60 persen di antaranya melibatkan pelaku usaha muda.
Keterlibatan pelaku usaha di berbagai daerah menjadi bagian dari pengembangan ekosistem energi berbasis sumber daya lokal. Pola ini memberi ruang bagi usaha kecil dan menengah untuk masuk ke rantai pasok energi, tidak hanya sebagai pemasok bahan baku tetapi juga pengolah limbah.
Di Bandung, skema DWM menyasar sampah kota sebagai bahan baku. Jika berjalan, aliran sampah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir bisa dialihkan menjadi sumber energi sekunder bagi pembangkit.
Apa Langkah Selanjutnya
Komitmen bersama ini masih berada di tahap koordinasi dan pengkajian potensi. Belum ada target volume sampah yang akan diolah maupun nilai investasi yang disepakati dalam penandatanganan tersebut.
Yang jelas, kolaborasi ini menggabungkan lima pihak dengan peran berbeda: PLN EPI di sisi rantai pasok energi, DDMF di sisi pendanaan, Rekind di sisi rekayasa industri, PNRE di sisi kelistrikan, dan DLH Kota Bandung sebagai pengelola sampah daerah.
Bagi PLN, keberhasilan model DWM di Bandung bisa menjadi cetakan untuk kota-kota lain dengan persoalan sampah serupa. Bagi Bandung, ini peluang mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan energi.
Penutup: Dengan potensi limbah agro 80 juta ton per tahun yang baru terserap 2,5 juta ton, ruang pengembangan energi biomassa di Indonesia masih terbuka lebar. Skema pengelolaan sampah terdesentralisasi di Bandung akan menguji apakah limbah kota bisa menjadi sumber energi sekunder yang layak secara ekonomi, bukan sekadar proyek percontohan.