Ketua Umum DPN HKTI Sudaryono mendorong optimalisasi sektor pertanian Maluku agar berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah, bukan hanya meningkatkan kesejahteraan petani. Pelantikan DPD HKTI Maluku periode 2026-2031 di Kantor Gubernur Maluku menjadi momentum penataan program komoditas unggulan daerah itu.
AMBON — Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia menilai sektor pertanian Maluku belum digarap optimal meski menyimpan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Sudaryono menyampaikan hal itu usai melantik pengurus DPD HKTI Maluku periode 2026-2031 di Kantor Gubernur Maluku.
Pelantikan tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan DPN HKTI Nomor 045/KEP/HKTI/IX/2026, hasil Musyawarah Daerah HKTI Maluku. Kepengurusan baru itu diminta langsung menyusun langkah kerja yang menyentuh petani di tingkat desa.
Cengkih, Pala, dan Kelapa Dinilai Belum Beri Nilai Tambah Maksimal
Sudaryono menyebut tiga komoditas andalan Maluku—cengkih, pala, dan kelapa—punya nilai ekonomi besar. Namun pengelolaannya masih berhenti di tahap produksi bahan mentah.
"Maluku memiliki potensi besar di sektor perikanan dan pertanian, termasuk komoditas unggulan seperti cengkih, pala dan kelapa," ujarnya.
Menurut dia, hilirisasi menjadi kunci agar daerah tidak sekadar mengekspor komoditas mentah. Pengolahan di dalam daerah diyakini membuka lapangan usaha baru sekaligus menambah penerimaan pemerintah.
Sudaryono: Potensi Alam Tak Cukup, Butuh Program Terukur
Sudaryono menegaskan kekayaan alam Maluku tidak otomatis mendongkrak ekonomi rakyat. Diperlukan program terukur, penguatan produktivitas petani, hingga sinergi dengan pelaku usaha.
"Potensi pertanian di Maluku harus dieksekusi sehingga membawa dampak baik bagi perekonomian rakyat, termasuk memberikan PAD bagi pemerintah daerah," kata dia.
Ia berharap HKTI daerah bersinergi dengan pemerintah setempat agar program pertanian dan pangan berjalan lebih cepat. Dampaknya diharapkan langsung dirasakan masyarakat, bukan hanya berhenti di dokumen program.
"Harapannya ada sinergitas antara HKTI dan pemerintah setempat sehingga berbagai program, khususnya di sektor pertanian dan pangan, dapat berjalan lebih baik dan cepat," katanya.
Pemprov Maluku Kembangkan Kelapa Dalam dan Pala Bersama PTPN I
Pemerintah Provinsi Maluku tengah mengoptimalkan komoditas lokal unggulan dari perkebunan, pangan, dan perikanan. Langkah itu menyasar ketahanan pangan, hilirisasi, dan daya saing komoditas daerah.
Kelapa dalam dan pala menjadi fokus hilirisasi yang dikerjakan bersama PTPN I. Pengembangan kelapa juga diarahkan pada peningkatan produktivitas melalui varietas unggul, termasuk kelapa dalam varietas Mapanget yang dikembangkan bersama BBRMP Maluku.
Untuk pangan lokal, Pemprov Maluku mendorong sagu, ubi kayu atau kasbi, sukun, hotong, dan jagung. Diversifikasi itu bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Peluang Usaha Baru jika Dikelola Terpadu
Penguatan sektor pertanian dinilai membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas. Kesempatan usaha bagi warga juga melebar, terutama jika pengelolaan dilakukan terpadu antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha.
Bagi daerah, kontribusi sektor ini berpotensi memperkuat sumber penerimaan daerah. Syaratnya, produksi, pengolahan, dan pemasaran berjalan dalam satu rantai yang tersambung.