Pencarian

Starcloud Bakal Tambang Bitcoin di Luar Angkasa Lewat Wahana Starcloud-2

Kamis, 24 September 2026 • 11:22:01 WIB
Starcloud Bakal Tambang Bitcoin di Luar Angkasa Lewat Wahana Starcloud-2
Ilustrasi wahana Starcloud-2 yang dijadwalkan meluncur pada awal 2027 untuk menambang Bitcoin di orbit.

MALUKU — Starcloud merencanakan penambangan Bitcoin komersial pertama di luar angkasa melalui wahana Starcloud-2 yang dijadwalkan meluncur awal 2027. Perusahaan rintisan yang didukung Nvidia itu akan memanfaatkan energi matahari di orbit sun-synchronous untuk menopang perangkat keras ASIC yang boros daya. Langkah ini menandai babak baru komputasi antariksa yang juga dilirik Google lewat Project Suncatcher.

Starcloud bukan sekadar membawa satelit penguji ke orbit. Perusahaan teknologi antariksa itu menyiapkan misi lanjutan yang secara spesifik diarahkan untuk menambang Bitcoin secara komersial, menjadikannya wahana pertama yang membawa perangkat keras penambangan kripto ke ruang angkasa.

Starcloud-2 dan Klaim Tambang Bitcoin Komersial Perdana

CEO Starcloud Philip Johnston mengklaim wahana Starcloud-2 akan menjadi yang pertama membawa hardware penambangan kripto berbasis ASIC ke ruang angkasa. Misi ini dijadwalkan meluncur pada awal 2027.

Sebelumnya, perusahaan telah meluncurkan satelit penguji Starcloud-1 berbobot 60 kilogram yang membawa chip AI Nvidia H100 pada November 2025. Peluncuran itu menjadi fondasi bagi Starcloud untuk membangun pusat data komersial berbasis energi surya di luar angkasa.

Mengapa Orbit Sun-Synchronous Jadi Kunci

Starcloud-2 akan beroperasi di orbit sun-synchronous guna memastikan ketersediaan energi matahari tanpa henti. Pasokan listrik gratis dari matahari inilah yang menjadi daya tarik utama penambangan kripto di antariksa, mengingat perangkat ASIC membutuhkan daya sangat besar.

Konsep pusat data antariksa ini juga dilirik Google melalui Project Suncatcher yang memanfaatkan TPU serta jaringan komunikasi optik antar-satelit. Artinya, Starcloud tidak bergerak sendirian di ruang ini.

Tantangan Ruang Hampa Udara dan Biaya Komputasi

Menambang kripto di luar angkasa membentur sejumlah tantangan teknis dan ekonomis yang kompleks. Ruang hampa udara tidak memungkinkan proses pendinginan berbasis konveksi seperti aliran udara di bumi.

Panas dari perangkat elektronik harus dibuang menggunakan radiator inframerah khusus. Sistem pendingin inilah yang menjadi salah satu penentu utama keberhasilan misi, selain efisiensi biaya peluncuran dan ketahanan chip ASIC di orbit.

Dari sisi biaya perangkat, Johnston menyebutkan bahwa biaya hardware ASIC dengan konsumsi daya 1 kW berkisar USD 1.000 (sekitar Rp 16 jutaan). Angka itu jauh lebih terjangkau dibandingkan GPU Nvidia B200 dengan konsumsi daya sama yang mencapai USD 30.000 (sekitar Rp 480 jutaan).

Risiko Usang dan Kompetisi Energi Murah di Bumi

Perangkat ASIC memiliki masa pakai dan efisiensi yang cepat usang dibanding GPU. Ini menjadi risiko tersendiri bagi Starcloud karena penggantian komponen di orbit jauh lebih mahal dan rumit ketimbang di darat.

Di sisi lain, penambang Bitcoin di bumi sudah mampu memanfaatkan sumber energi murah seperti gas buang (flare gas) dengan tarif hanya 2 hingga 3 sen per kWh. Artinya, keunggulan energi matahari di orbit harus cukup besar untuk menutup biaya peluncuran dan operasional yang tidak murah.

Keberhasilan penambangan kripto di luar angkasa pada akhirnya akan sangat bergantung pada seberapa efisien biaya peluncuran, ketahanan sistem pendingin radiator, serta masa pakai operasional chip ASIC di orbit, demikian dikutip dari Techspot.

Follow maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks