Pemerintah Provinsi Maluku mengoptimalkan pompanisasi, jaringan irigasi, dan penyesuaian pola tanam guna menjaga pasokan pangan selama musim kemarau dan ancaman El Nino. Langkah darurat disiapkan di Daerah Irigasi Matakabo, Kabupaten Seram Bagian Timur, setelah penurunan debit Sungai Matakabo menghentikan distribusi air ke jaringan irigasi. Sekitar 185 hektare lahan di lima wilayah irigasi berpotensi terdampak jika penanganan tidak segera dilakukan.
AMBON — Sekretaris Daerah Maluku Sadali Ie menyatakan penguatan pengelolaan sumber daya air menjadi langkah penting untuk mempertahankan produktivitas lahan pertanian saat debit air menurun. Koordinasi lintas sektor, optimalisasi jaringan air, penyesuaian pola tanam, dan pemanfaatan varietas adaptif disebut sebagai kunci menghadapi kondisi kekeringan.
"Yang perlu kita lakukan adalah penguatan koordinasi lintas sektor, optimalisasi jaringan dan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta pemanfaatan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan," kata Sadali di Ambon, Rabu (23/9).
Pemprov Maluku meminta pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim. Sarana irigasi dioptimalkan, sumber air yang tersedia dimanfaatkan, dan masa tanam di wilayah yang masih memiliki ketersediaan air dipercepat.
Penurunan Debit Sungai Matakabo Hentikan Distribusi Air
Penanganan darurat dilakukan di Daerah Irigasi Matakabo, Kabupaten Seram Bagian Timur. Penurunan debit Sungai Matakabo membuat elevasi muka air tidak lagi mencapai intake sehingga distribusi air ke jaringan irigasi sempat terhenti.
Kondisi itu berpotensi mengganggu layanan irigasi untuk sekitar 185 hektare lahan. Wilayah terdampak mencakup Way Samet, Way Matakabo, Way Ketambaru, Akijaya, dan Banggai Pancorang.
Balai Wilayah Sungai Maluku menyiapkan penanganan darurat melalui normalisasi bagian hulu bendung dan pemanfaatan embung eksisting. Air dialirkan ke jaringan irigasi menggunakan empat unit pompa.
Lima Hektare Lahan di Waimatakabo Berhasil Diselamatkan
Kepala BBRMP Maluku Gunawan menyebut dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pertanian. Di Bendungan Waimatakabo, Kabupaten Seram Bagian Timur, terjadi penurunan debit air secara signifikan.
"Dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pertanian. Di Bendungan Waimatakabo, Kabupaten Seram Bagian Timur, misalnya, terjadi penurunan debit air secara signifikan," kata Gunawan.
Kolaborasi Dinas Pertanian kabupaten, penyuluh, dan BWS memungkinkan sekitar lima hektare lahan pertanian di wilayah tersebut tetap diselamatkan. Gunawan menilai kondisi itu menunjukkan pentingnya koordinasi cepat dan terpadu untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap produksi pertanian.
Varietas Adaptif hingga Pemetaan Digital Jadi Strategi Lanjutan
Petani didorong menggunakan varietas tanaman yang adaptif terhadap kekeringan untuk mengurangi risiko penurunan produksi. Penyesuaian waktu dan pola tanam dilakukan berdasarkan kondisi iklim agar risiko gagal panen dapat ditekan.
"Penyesuaian waktu dan pola tanam perlu dilakukan berdasarkan kondisi iklim sehingga risiko gagal panen dapat ditekan dan ketersediaan komoditas pangan tetap terjaga," ujar Sadali.
Pemprov Maluku juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengaturan masa tanam dan indeks pertanaman, pemetaan wilayah secara digital, serta pengembangan komoditas hortikultura alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi lahan dan ketersediaan air.
Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi irigasi perpompaan, pemanfaatan embung, serta rehabilitasi jaringan air melalui koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Maluku. Langkah ini diharapkan menjaga lahan pertanian tetap produktif, mengurangi risiko gagal panen, sekaligus memastikan pasokan pangan dan komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi tetap tersedia selama musim kemarau.