MALUKU — Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan tujuh titik sumur dalam di Kawasan Sentra Produksi Pangan, Energi, dan Air Nasional Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, untuk menjamin pasokan air bagi lahan pertanian padi. Survei geolistrik 9 Oktober 2026 menunjukkan setiap titik berpotensi menghasilkan air 1–2 liter per detik. Pemerintah menargetkan panen perdana padi pada awal hingga pertengahan November 2026.
Kementerian Pekerjaan Umum memastikan kebutuhan air untuk kawasan pertanian Wanam terpenuhi. Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan ketersediaan air tawar menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pertanian di Wanam, terutama di tengah pengembangan kawasan sentra produksi pangan baru. Sumur dalam yang disiapkan memiliki potensi akuifer pada kedalaman 60–70 meter.
Lahan Percontohan Baru 40 Hektare
Penanaman padi di Wanam baru mencapai sekitar 40 hektare pada lahan percontohan di Kilometer 21 hingga 1 Oktober 2026. Dody menyebut luas tersebut akan bertambah secara bertahap melalui program Kementerian Pertanian.
"Yang sudah tertanam hari ini baru 40 hektare. Selanjutnya akan ditanam secara bertahap oleh Kementerian Pertanian. Tugas kita adalah menyiapkan airnya, memastikan kebutuhan air untuk kawasan pertanian ini tersedia," ujar Dody kepada wartawan, Senin (12/10/2026).
Selain sumur dalam, Kementerian PU telah membangun jaringan saluran sepanjang 133 kilometer dari target 180 kilometer. Pembangunan mencakup jaringan irigasi rawa dan saluran pengendalian banjir untuk mendukung pengelolaan air di kawasan pertanian.
Bagian dari Strategi Pangan di Luar Jawa
Pengembangan KSPEAN Wanam merupakan bagian dari strategi pemerataan sentra produksi pangan di luar Pulau Jawa untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Dody mengaitkan proyek ini dengan visi Presiden Prabowo soal cadangan pangan.
"Visi Presiden Prabowo adalah kita wajib memiliki cadangan pangan. Kondisi global dengan berbagai ketidakpastian membuat kita harus mengejar keberlanjutan. Karena itu, kawasan seperti Wanam ini harus kita siapkan," kata Dody.
Rekam Jejak Penanganan Kekeringan
Kementerian PU sebelumnya bergerak cepat menangani darurat kekeringan di berbagai wilayah. Sejak Juli hingga 24 September 2026, penanganan dilakukan di 3.288 lokasi untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Rinciannya, 358 lokasi berada di area persawahan, 2.553 lokasi di kawasan permukiman, dan 377 lokasi berkaitan dengan penanganan karhutla. Upaya tersebut menyelamatkan 141.440 hektare sawah dari ancaman gagal tanam maupun gagal panen.
Kementerian PU juga menyalurkan 48,9 juta liter air bersih yang dimanfaatkan sekitar 1,75 juta jiwa. Dari 358 lokasi persawahan, 272 lokasi telah selesai ditangani dan 86 lokasi masih diproses. Sementara dari 2.553 lokasi permukiman, 2.077 lokasi rampung dan 476 lokasi dalam penanganan.
Penanganan meliputi pemompaan air sungai ke area sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, pembangunan saluran darurat, serta pengaturan giliran dan distribusi air. Teknologi irigasi hemat air dipakai untuk memperluas jangkauan ke area persawahan lain.
Antisipasi El Nino hingga November
Seluruh penanganan dikawal melalui Satuan Tugas Antisipasi El Nino. Tim memantau kondisi bendungan, embung, dan jaringan irigasi secara berkala untuk memastikan sumber air dimanfaatkan optimal.
Langkah tersebut mengantisipasi dampak kekeringan yang berpotensi berlangsung hingga November 2026. Dody menegaskan infrastruktur air yang ada harus dioptimalkan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan produktivitas pertanian.
Bagi Merauke, keberhasilan panen perdana November nanti menjadi ujian pertama apakah kawasan Wanam layak menjadi lumbung pangan baru di timur Indonesia. Pasokan air dari tujuh sumur dalam dan jaringan irigasi 133 kilometer akan menentukan apakah target perluasan lahan di luar 40 hektare bisa berjalan sesuai jadwal.