MALRA — Direktur Perumda Air Minum Tirta Evav Sejahtera, Fatma Talaohu, menyatakan sumber air masih mencukupi untuk melayani seluruh pelanggan. Persoalan paling krusial justru ada di jaringan distribusi yang tak kunjung diperbarui sejak puluhan tahun lalu.
"Pelanggan kami sudah lebih dari 10 ribu. Secara umum, sumber air masih mencukupi. Kendala paling krusial adalah jaringan pipa induk yang sudah tua," kata Fatma kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (21/10/2026).
Pipa 10 Inci Tak Lagi Sebanding dengan Jumlah Pelanggan
Jaringan pipa induk yang beroperasi saat ini berdiameter 10 inci. Ukuran itu tak berubah sejak jaringan dibangun pada 1972, sementara jumlah sambungan rumah terus bertambah setiap tahun.
Kondisi tersebut membuat tekanan dan kelancaran distribusi air sulit ditingkatkan, terutama untuk menjangkau pelanggan di wilayah terjauh. Untuk mencapai tekanan satu bar saja, operator masih kesulitan.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara melalui bupati terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna mendapat dukungan anggaran rehabilitasi. Rencana itu telah memasuki tahap persiapan teknis.
Konsultan Usulkan Pipa 16 Inci, Tekanan Ditargetkan Naik ke 7 Bar
Konsultan telah melakukan survei untuk menyusun dokumen perencanaan. Lingkupnya mencakup verifikasi kondisi jaringan lama, simulasi distribusi air hingga ke pelanggan, serta kajian dampak rehabilitasi terhadap pendapatan perusahaan.
Dalam perencanaan itu, pipa induk 10 inci diusulkan diganti menjadi 16 inci. Perubahan diameter diharapkan mendongkrak tekanan air secara signifikan.
"Dengan pergantian pipa tersebut, diharapkan tekanan air hingga ke pelanggan yang berada paling jauh dapat meningkat signifikan. Saat ini, untuk mencapai tekanan satu bar saja masih sulit. Melalui rehabilitasi, tekanan air ditargetkan bisa mencapai tujuh bar," jelasnya.
Kebakaran Hutan Rusak 1,6 Kilometer Jaringan di Watngil dan Arso
Musim kemarau berkepanjangan memicu kebakaran hutan yang merusak jaringan pipa di wilayah barat. Jaringan terdampak melayani pelanggan di Watngil dan Arso, dengan panjang kerusakan diperkirakan mencapai 1,6 kilometer.
Perbaikan jaringan tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp100 juta. Perumda akan meminta arahan bupati selaku pemilik perusahaan untuk menentukan langkah penanganan.
"Kami akan meminta arahan Bupati selaku pemilik perusahaan untuk menentukan langkah penanganannya. Berdasarkan perhitungan kami, dibutuhkan anggaran sekitar Rp100 juta agar distribusi air kepada pelanggan di Watngil dan Arso dapat kembali lancar," ungkap Fatma.
Elat Bergilir Dua Hari Sekali gara-gara Debit Mata Air Menurun
Di wilayah Elat, pelayanan air terdampak penurunan debit mata air. Kawasan itu melayani hampir 400 sambungan rumah dengan kapasitas reservoir sekitar 300 ton.
Sistem pelayanan di Elat mengandalkan gravitasi. Air dari mata air dialirkan ke bak penampungan sebelum disalurkan ke pelanggan, sehingga penampungan harus terisi lebih dulu.
Akibat debit yang menurun, distribusi yang sebelumnya berjalan setiap hari kini diatur bergiliran, bahkan sekitar dua hari sekali. Kondisi geografis dan terbatasnya akses layanan mobil tangki mempersulit penanganan di kawasan itu.
"Di Elat, debit mata air memang kecil dan sekarang mengalami penurunan. Karena itu, distribusi air harus dibagi waktunya agar pelanggan tetap bisa mendapatkan pelayanan," jelas Fatma.
Kualitas Air Dinilai Baik, Perbaikan Infrastruktur Jadi Kunci
Fatma menegaskan kualitas air yang bersumber dari mata air kawasan hutan dinilai baik. Perusahaan tetap mengandalkan sistem penampungan sebelum air dialirkan kepada pelanggan.
Perumda berharap dukungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat berlanjut, terutama untuk rehabilitasi pipa induk dan perbaikan jaringan yang rusak akibat kebakaran. Pembenahan infrastruktur disebut menjadi langkah penting agar pertambahan pelanggan diimbangi kapasitas jaringan yang memadai.