MALUKU — PT Kereta Api Indonesia (Persero) merangkum sepuluh terowongan kereta api paling bersejarah di Indonesia, dari Terowongan Lampegan di Cianjur hingga Sasaksaat di Purwakarta. Daftar ini memperlihatkan betapa ekstrem tantangan geografis Nusantara saat jaringan rel mulai dibentangkan pada akhir abad ke-19. Bagi penumpang dan generasi muda, terowongan-terowongan itu bukan sekadar lorong batu, melainkan rekam jejak teknik konstruksi masa lalu.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut terowongan bersejarah menyimpan nilai pendidikan yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat. Keberadaannya, kata Anne, menggambarkan perkembangan teknik konstruksi pada masa lalu sekaligus memperlihatkan bagaimana kondisi geografis Indonesia memengaruhi pembangunan jaringan kereta api.
Pernyataan itu disampaikan Anne merujuk laman resmi KAI. Menurutnya, warisan infrastruktur ini perlu terus dirawat agar pembelajaran lintas bidang tetap bisa dipetik generasi mendatang.
Lampegan, Terowongan Kereta Tertua di Indonesia
Terowongan Lampegan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, memegang predikat sebagai terowongan kereta api tertua di Indonesia. Dibangun pada 1879–1882 dengan panjang historis 686 meter, jalur ini dibor menembus perbukitan Priangan demi memperlancar pengangkutan komoditas hasil perkebunan.
Di Jawa Tengah, Terowongan Ijo Lama di Kebumen menyusul tak lama kemudian. Terowongan sepanjang 580 meter yang dibangun 1885–1886 itu menjadi simpul vital jaringan rel di selatan Pulau Jawa, menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan permukiman warga di balik benteng perbukitan.
Medan Ekstrem di Jawa Timur
Dua terowongan di ujung timur Pulau Jawa dibangun pada periode yang sama, 1901–1902. Terowongan Garahan membentang 113 meter di medan perbukitan lintas Jember–Banyuwangi untuk membuka akses transportasi.
Terowongan Mrawan menembus kawasan Gunung Gumitir dengan panjang 690 meter. Penggaliannya dilakukan secara ekstrem dari dua sisi bukit sekaligus — pendekatan yang tak lazim pada masanya — untuk menghubungkan wilayah Jember dan Banyuwangi.
Jalur Rel Bergigi dan Urat Nadi Tambang Ombilin
Sumatra Barat menyumbang empat terowongan dalam daftar ini. Terowongan Lembah Anai I sepanjang 100 meter dan Lembah Anai II sepanjang 200 meter, keduanya dibangun 1890–1891, menembus curamnya pegunungan Lembah Anai untuk merajut konektivitas antara pedalaman Minangkabau dan kawasan pesisir.
Medan ekstrem di lintasan itu memicu penggunaan teknologi rel bergigi agar armada kereta sanggup merayap di tanjakan terjal. Terowongan Kupitan sepanjang sekitar 600 meter di lintas Muara Kalaban–Padang Sibusuk lalu menjadi bagian dari ekspansi jalur rel Sumatra Barat untuk menyokong pengangkutan komoditas daerah.
Yang paling panjang di Sumatra adalah Terowongan Lubang Kalam, 828 meter di lintas Sawahlunto–Muara Kalaban. Lorong ini terikat erat dengan sejarah Tambang Batu Bara Ombilin dan menjadi urat nadi pengangkutan batu bara menuju Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) untuk pasar internasional. Kawasan itu kini ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Sasaksaat dan Batulawang: Kisah Teknis dari Jawa Barat
Terowongan Sasaksaat sepanjang 949 meter di lintas Purwakarta–Padalarang menyimpan kisah teknis luar biasa. Saat menembus cadas keras, pekerja menambang secara manual tanpa bahan peledak demi menjaga stabilitas tanah, dibantu penerangan dari dinamo listrik.
Terakhir, Terowongan Batulawang sepanjang 281,5 meter di jalur nonaktif Banjar–Cijulang. Pada masanya, terowongan yang dibangun 1914 itu menjadi jalur penting penghubung kawasan selatan Jawa Barat dengan jaringan transportasi nasional.
Sejajar dengan Era Keemasan Rekayasa Dunia
Pembangunan terowongan di Indonesia berlangsung sejajar dengan era keemasan rekayasa teknik dunia. Di Swiss, Terowongan Gotthard sepanjang 15 kilometer rampung pada 1882, disusul Terowongan Simplon sepanjang 19,8 kilometer pada 1906.
Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto sendiri diakui UNESCO pada 2019 atas integrasi pertambangan dan transportasi relnya. Pengakuan itu menegaskan posisi jalur kereta sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah ekonomi kolonial di Nusantara.
Memasuki usia 159 tahun perkeretaapian Indonesia pada 2026, Anne Purba menggarisbawahi pentingnya merawat museum dan arsip sejarah. Bagi KAI, terowongan-terowongan tua itu bukan sekadar aset operasional, melainkan bukti bahwa jaringan rel Indonesia dibangun lewat perjuangan teknik yang tak ringan.