Pencarian

Alumni Unpatti Michael Wattimena Berbagi Pengalaman ke Calon Wisudawan: Wisuda Bukan Akhir, tapi Awal Pembuktian Diri

Sabtu, 31 Oktober 2026 • 11:16:02 WIB
Alumni Unpatti Michael Wattimena Berbagi Pengalaman ke Calon Wisudawan: Wisuda Bukan Akhir, tapi Awal Pembuktian Diri
Alumni Unpatti Michael Wattimena berbagi pengalaman dan pesan kepada calon wisudawan di Ambon.

AMBON — Michael Wattimena menuturkan perjalanan hidupnya yang berasal dari Negeri Itawaka, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Ia menyelesaikan pendidikan di Unpatti pada Oktober 1993, lalu merantau ke Jakarta pada Desember 1993 untuk melanjutkan pendidikan dan karier.

Pengalaman pahit sempat dialaminya. Ketika pertama kali berada di Jakarta pada 1994, sejumlah orang tidak percaya bahwa dirinya berasal dari Ambon. Kisah itu menjadi salah satu alasan baginya mengingatkan generasi muda Maluku agar tidak minder di tengah lingkungan yang penuh persaingan.

Pesan untuk Generasi Muda Maluku: Jangan Minder di Kota Besar

Wattimena meminta anak muda Maluku percaya pada kemampuan sendiri saat bersaing di luar daerah. Menurutnya, keberhasilan yang ia raih sekarang bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.

"Jangan pernah katong merasa minder apabila berada di sebuah kota yang penuh dengan dinamika, karena katong juga bisa menghadirkan dinamika dimaksud," ungkapnya.

Ia menegaskan capaiannya dibangun melalui proses panjang: pendidikan, perjuangan, dan kerja keras. Saat ini, selain berpengalaman di dunia politik dan pemerintahan, Wattimena dipercaya sebagai Ketua Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pattimura.

Tiga Fondasi Keberhasilan: Ilmu, Karakter, dan Pengabdian

Menurut Wattimena, keberhasilan seseorang harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni ilmu pengetahuan, karakter, dan pengabdian. Ia menekankan ilmu yang diperoleh selama kuliah harus diterjemahkan menjadi karya, tanggung jawab, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Papua Barat pada 2009. Pada 2010, ia ditempatkan di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur.

Peran di Komisi V dan Perjuangan Jembatan Merah Putih

Dalam tugas itu, Wattimena terlibat dalam perjuangan pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP) yang kini menjadi ikon Kota Ambon. Pada 2010, Gubernur Maluku saat itu, Karel Ralahalu, bersama Kepala Balai Jalan dan Jembatan, Jefry Pattiasina, menemui Komisi V DPR RI untuk memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut.

Melalui pembahasan anggaran tahun 2010, pembangunan JMP akhirnya disetujui dengan skema anggaran tahun jamak atau multiyears.

"Kalau hari ini Ambon punya ikon yang namanya Jembatan Merah Putih, dan adik-adik dengan mudah ke kampus melewati JMP, tidak seperti kami dulu yang harus menggunakan perahu atau feri, maka JMP ini juga merupakan bagian dari perjuangan kami," jelasnya.

Meski secara politik mewakili daerah pemilihan Papua Barat, Wattimena menyebut dirinya secara biologis dan emosional tetap memiliki ikatan kuat dengan Maluku sebagai tanah kelahiran. Perjuangan pembangunan di Maluku selalu menjadi bagian dari perhatian dan pengabdiannya.

Tiga Sikap Hadapi Dunia Kerja yang Makin Kompetitif

Wattimena mengingatkan para calon wisudawan mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Menurutnya, ada tiga sikap utama yang harus dimiliki generasi muda: tangguh, mampu beradaptasi, dan terus meningkatkan kapasitas diri.

Ia menilai masuk dunia kerja bukan perkara mudah karena setiap orang akan berhadapan dengan persaingan dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi. Karena itu, lulusan yang masih punya kesempatan didorong tidak berhenti melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Wattimena mencontohkan perjalanan akademiknya sendiri. Setelah merantau ke Jakarta pada 1994, ia melanjutkan pendidikan S2, kemudian menempuh S3 di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI. Ia juga mengambil S1 Ilmu Hukum di Universitas Bung Karno karena menyadari pentingnya latar belakang pendidikan beragam untuk memperluas peluang profesional.

Integritas, Keluar dari Zona Nyaman, dan Belajar Sepanjang Hayat

Ada tiga sikap yang ditekankannya kepada para calon wisudawan. Pertama, menjaga integritas dan etos kerja. Kedua, berani keluar dari zona nyaman. Ketiga, menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat.

Putra kelahiran Itawaka Saparua ini juga berbagi pengalaman saat sempat mempertimbangkan melanjutkan S2 Hukum setelah menempuh S1 Hukum. Setelah menjalani empat semester, ia memutuskan tidak melanjutkan karena ingin memastikan setiap gelar akademik diperoleh melalui proses pendidikan yang sungguh-sungguh.

"Beta tidak mau hanya mendapatkan kertas tanpa mengikuti prosesnya dengan benar," ujarnya.

Follow maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartamaluku.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks