MALUKU — Sejak turnamen bergulir pada 11 Juni 2026, Trump baru sekali menyinggung Piala Dunia lewat unggahan di Truth Social pada 28 Juni. Isinya hanya soal pujian angka kehadiran penonton—4,6 juta orang—yang memecahkan rekor. Tidak ada kunjungan ke stadion, tidak ada pidato di depan kamera, tidak ada foto bersama trofi.
Diam di Tengah Panggung Global yang Paling Terang
Absennya Trump dari Piala Dunia jadi teka-teki. Presiden yang dikenal haus sorotan ini justru memilih bungkam saat 82 pertandingan dan 22 hari turnamen berlalu. Padahal, Piala Dunia kali ini digelar di tiga negara tuan rumah: AS, Meksiko, dan Kanada.
Pilihan ini bukan tanpa preseden. Vladimir Putin melakukan hal serupa saat Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Putin hadir di final dan beberapa laga strategis, tapi nyaris tak mengeluarkan pernyataan publik. Dunia melihat Rusia sebagai tuan rumah yang tertib dan ramah selama empat pekan—tanpa retorika otoriter yang biasa.
Strategi "Jangan Beri Target" di Tengah Sorotan Global
Menurut pengamat, Trump mengikuti peta jalan yang sama. Selama Piala Dunia berlangsung, dunia sedang menyorot. Setiap pernyataan atau tindakan kontroversial akan langsung menjadi konsumsi media global. Diam adalah pilihan paling aman.
“Jangan beri target. Tidak dalam empat pekan ketika dunia sedang menonton,” tulis Barney Ronay dalam analisisnya di The Guardian. Trump sadar bahwa Piala Dunia adalah panggung yang terlalu besar untuk risiko politik yang tidak perlu.
Suara Bising yang Sengaja Diredam
Selama ini Trump membangun citra dirinya sebagai mesin kebisingan industri—banjir pernyataan, serangan personal, dan klaim bombastis. Tapi untuk Piala Dunia, ia mematikan tombol itu. Unggahan pada 28 Juni soal rekor penonton justru terdengar datar, tanpa nada ofensif seperti biasa.
Di hari yang sama, Trump juga menulis tentang kondisi lapangan golf, klaim ballroom barunya, dan kekalahan banding kasus pelecehan seksual. Di antara semua itu, unggahan Piala Dunia justru yang paling tenang.
Piala Dunia yang Tak Bisa Ditundukkan oleh Politik
Piala Dunia 2026 adalah ajang olahraga paling inklusif di dunia. Lebih dari 4,6 juta penonton dari berbagai negara hadir di stadion-stadion AS. Keragaman suporter, budaya, dan latar belakang politik justru menjadi kekuatan turnamen ini.
Bagi Trump, yang terbiasa membangun narasi tentang eksklusi dan permusuhan terhadap kelompok tertentu, atmosfer Piala Dunia adalah antitesis dari pesan politiknya. “Sepak bola tidak akan tunduk pada keinginan presiden yang begitu bersemangat untuk mendemonisasi dan mengecualikan,” tulis Ronay.
Putin 2018, Trump 2026: Dua Presiden, Satu Pola
Putin hadir di final Piala Dunia 2018 tanpa banyak bicara. Trump diperkirakan akan melakukan hal serupa saat final di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026. Tapi sampai saat itu tiba, keheningannya tetap menjadi pernyataan politik yang paling berbobot.
Ini bukan ketidaktertarikan. Ini kalkulasi. Trump memilih untuk tidak menjadi bagian dari narasi Piala Dunia karena ia tidak bisa mengendalikannya. Dan untuk seorang presiden yang terbiasa mengatur panggung, keheningan adalah satu-satunya pilihan yang tak bisa diserang.