MALUKU — Lille tampaknya kembali menemukan tambang emas. Setelah sukses dengan nama-nama seperti Eden Hazard dan Victor Osimhen, kini giliran Ayyoub Bouaddi yang menjadi primadona. Gelandang bertinggi 1,86 meter ini menjadi sorotan setelah mampu mendominasi lini tengah saat Maroko U-20 menahan imbang Brasil di fase grup.
Casemiro dan Bruno Guimaraes Kalah Pamor
Dalam laga yang menjadi debutnya di turnamen akbar, Bouaddi tampil luar biasa. Ia mencatatkan 87 sentuhan bola dan 60 umpan akurat, lebih banyak dari pemain Maroko lainnya. Yang lebih impresif, ia tampil percaya diri melawan dua gelandang Premier League sekaligus: Casemiro dan Bruno Guimaraes.
"Siapa pun yang pernah melihatnya di Lille tahu levelnya. Dia tidak hanya punya kualitas, tapi juga kepribadian—semacam arogansi positif. Dia percaya diri, punya aura, dan kehadiran kuat di lapangan," ujar mantan pemain timnas Maroko, Hassan Kachloul, kepada BBC Sport.
Daftar Belanja City dan Duel dengan Lamine Yamal
Manchester City menjadi salah satu klub yang paling serius. Sumber BBC Sport menyebut Bouaddi masuk dalam daftar target The Citizens, yang baru saja memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Elliot Anderson dari Nottingham Forest senilai 116 juta poundsterling. Arsenal, Real Madrid, Barcelona, dan Paris Saint-Germain juga memantau situasinya.
Lille dikabarkan memasang banderol antara 69 juta hingga 86 juta poundsterling untuk pemain yang baru debut di timnas senior Maroko pada Mei lalu itu. Angka itu wajar di pasar saat ini, terutama setelah City menunjukkan kesediaan membayar mahal untuk seorang gelandang.
Musim lalu, Bouaddi memimpin berbagai statistik untuk pemain U-18 di lima liga top Eropa. Ia memainkan menit terbanyak (2.329 menit) dan tampil dalam 30 pertandingan—melebihi Lamine Yamal (Barcelona), Karim Coulibaly (Werder Bremen), dan Mateus Mane (Wolves). Ia juga memenangkan penguasaan bola 151 kali, melakukan 59 tekel, dan 27 intersepsi.
Mirip Sergio Busquets, Tapi dengan Postur Lebih Tinggi
Jurnalis sepak bola Maroko, Amine el Amri, membandingkan Bouaddi dengan legenda Barcelona, Sergio Busquets. "Dia sangat tinggi tapi tidak terlalu berotot. Biasanya pemain nomor enam atau delapan punya otot. Yang dia lakukan paling baik adalah tetap tenang saat membawa bola dan saat menekan. Dia tidak banyak melakukan pelanggaran, itulah yang membuat Busquets menjadi gelandang sempurna," jelas El Amri.
"Dia punya potensi menjadi salah satu gelandang terbaik sepanjang masa, bukan hanya untuk Maroko. Tapi dia harus tetap membumi. Kamu tidak bisa menjadi bintang jika tidak bekerja keras," tambahnya.
Sosok 'Menantu Idaman' yang Jago Matematika
Di luar lapangan, Bouaddi juga punya cerita menarik. Ia meraih ijazah sekolah menengah atas di bidang matematika dan fisika. "Semua orang di Maroko menyukainya. Bukan hanya karena dia pemain bagus, tapi di luar lapangan dia—seperti yang kami katakan—menantu idaman," ujar El Amri.
Saat ini, fokus Bouaddi adalah membantu Maroko melaju lebih jauh di Piala Dunia U-20, setelah sukses besar tim senior mencapai semifinal Piala Dunia 2022. Laga selanjutnya melawan Kanada akan menjadi ujian berikutnya bagi gelandang muda yang disebut-sebut bakal menjadi bintang masa depan ini.