MALUKU — Pelacakan data manifest menjadi sorotan utama pasca-penutupan operasi SAR gabungan. Anton, perwakilan keluarga Abdul Manan, mengaku telah mendatangi posko terpadu di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, namun petugas belum memberikan kepastian. Abdul Manan diketahui bekerja sebagai koki di kapal milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) itu selama satu hingga dua tahun terakhir.
"Setelah dicari enggak ada, sudah dikonfirmasi. Tadi waktu ke masuk posko sudah tanya, jawabannya berusaha dicari sama petugas," ujar Anton saat ditemui di Surabaya, Rabu (5/8).
Kontak terakhir keluarga dengan Abdul Manan terjadi saat proses pemuatan kapal. Sejak itu, seluruh nomor telepon kru tidak dapat dihubungi. Pihak PT ALP disebut telah berjanji membantu proses pencarian, namun hingga kini belum ada perkembangan berarti.
Kesaksian Korban Selamat: Pelampung Lepas dan Jatuh Berkali-kali
Muhammad Jasuar Bustam, warga Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, masih menunggu kabar soal ayahnya, Bustam Sanusi, yang berprofesi sebagai sopir truk asal Makassar. Kesaksian rekan kerja yang selamat menggambarkan situasi kacau saat kebakaran melanda. Bustam Sanusi sempat ditolong naik ke atas kapal, namun pelampung yang dikenakannya terlepas hingga menyebabkan ia terjatuh ke laut sebanyak tiga kali."Saya anaknya. Bapak sopir asal Makasar. Sekarang nggak ada kabarnya, nggak ada namanya," kata Jasuar.
Komunikasi terakhir dengan Bustam Sanusi terjadi melalui video yang dikirim pukul 09.00 WIB pada hari kejadian. Beberapa jam kemudian, ponsel korban tidak aktif. Hasanudin, teman keluarga yang mendampingi, mempertanyakan ketidaksesuaian data di manifes. Ia menyebut tiket atas nama orang lain digunakan korban, sementara mobil yang dikemudikan merupakan unit pengganti.
"Andik Herman juga tidak ada. Itu masih satu kerjaan, sopir juga. Andik Herman dan Bustam Sanusi yang belum ketemu," ungkap Hasanudin.
Bukti Tiket dan Rekaman Video Jadi Pegangan Keluarga
Tarjo, pengurus gudang di PT Lintas Krayon, menghadapi situasi serupa. Sopirnya, Abdurrahman (51), dipastikan berangkat menggunakan kapal tersebut berdasarkan bukti pembelian tiket resmi dan rekaman video saat proses pemuatan. Tarjo telah memantau pengumuman data korban sejak hari pertama kejadian hingga konferensi pers resmi, namun nama Abdurrahman tidak pernah muncul."Minggu, ya hari Minggu saya ikutin sampai dari siang sampai malam itu, sampai pagi lagi saya ikutin. Nah ternyata tadi pas press conference kok cuma 238," katanya.
Keluarga korban berharap proses pencarian tetap dilanjutkan secara mandiri atau oleh perusahaan meski status operasi SAR khusus kedaruratan telah berakhir. Mereka memilih bertahan di Surabaya untuk mengikuti perkembangan. Sejumlah pihak meminta perusahaan pelayaran membuka data kru dan penumpang aktual secara transparan guna memastikan tidak ada korban yang terlewat dalam proses evakuasi dan identifikasi.