SERAM BAGIAN BARAT — Pelatihan pengelolaan perikanan pesisir yang digelar Yayasan Kiranis bersama organisasi konservasi Rare di Ambon pada 12–14 Oktober 2026 melahirkan tiga warga asli Waisala yang siap bertugas di lapangan. Selain Dewi Yanti Tomia sebagai edukator warga dan Yusna Papalia sebagai petugas pendataan ikan, Asri dipercaya menjabat Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Waisala.
Dari 14 peserta lokakarya, delapan di antaranya merupakan tim Yayasan Kiranis. Kolaborasi Kiranis dan Rare menggabungkan pengalaman pendampingan lapangan dengan metode perubahan perilaku masyarakat dan pendataan digital.
Desa Waisala berada di Kabupaten Seram Bagian Barat, wilayah yang menghadapi tekanan penggunaan bom ikan dan minimnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan pesisir. Kondisi itulah yang mendorong kedua perempuan muda ini mengambil peran di garis depan.
Mengapa Suara Perempuan Kerap Tenggelam di Musyawarah Desa
Dewi menilai kelompok perempuan dan anak muda harus menjadi kunci perubahan di desa induk Waisala dan 13 dusunnya. Sebagai penggagas kelompok UMKM perempuan setempat, ia melihat ruang ekonomi warga sebagai pintu masuk pesan kelestarian laut.
"Di desa, suara perempuan kerap tenggelam di balik suara laki-laki. Karena itu, gerakan ini harus dimulai dari anak muda dan kelompok perempuan," kata Dewi.
Pendekatan yang dipilih bukan ceramah formal. Dewi berencana menempelkan edukasi konservasi pada kegiatan yang sudah berjalan, terutama kelompok UMKM dan PKK yang memiliki program pengolahan ikan.
"Kami akan menyelipkan edukasi konservasi lewat kegiatan UMKM dan kelompok PKK yang memiliki program pengolahan ikan, seperti pembuatan abon dan bakso ikan," sambungnya.
Abon dan Bakso Ikan Jadi Pintu Masuk Edukasi Konservasi
Produk olahan ikan seperti abon dan bakso dipilih bukan tanpa alasan. Kelompok PKK di Waisala sudah memiliki program pengolahan yang aktif, sehingga pesan menjaga laut bisa disisipkan tanpa perlu membentuk forum baru.
Dewi menekankan pendekatan dialog informal dari rumah ke rumah untuk mendengar aspirasi warga sebelum merumuskan program bersama pemerintah desa. Cara ini dinilai lebih efektif menjangkau warga yang enggan berbicara di forum resmi.
Pendekatan dari rumah ke rumah juga memungkinkan warga menyampaikan keluhan soal hasil tangkapan yang menurun atau praktik penangkapan merusak di sekitar desa.
Pendataan Digital Hasil Tangkapan Nelayan
Yusna Papalia mengambil peran berbeda. Ia bertugas mencatat hasil tangkapan nelayan lokal menggunakan metode pendataan digital yang diperkenalkan dalam lokakarya Kiranis dan Rare.
Data tangkapan harian menjadi dasar penting untuk melihat kondisi stok ikan di perairan Waisala. Tanpa pencatatan yang rapi, sulit menilai apakah laut sekitar desa masih mampu menopang penghidupan nelayan dalam jangka panjang.
Metode perubahan perilaku masyarakat yang dibawa Rare melengkapi sisi teknis pendataan. Keduanya digabung agar edukasi konservasi tidak berhenti di tingkat kesadaran, tetapi berdampak pada praktik harian nelayan.
Pokmaswas Waisala dan Peran Pengawasan Warga
Asri yang menjabat Ketua Pokmaswas Waisala melengkapi struktur pengelolaan ini. Kelompok ini menjadi ujung tombak pengawasan terhadap praktik penangkapan ikan yang merusak di perairan desa.
Pengalaman pendampingan lapangan Yayasan Kiranis selama bertahun-tahun di wilayah Maluku menjadi modal awal bagi ketiga warga Waisala tersebut.
Langkah yang dimatangkan ketiganya menyasar 13 dusun di bawah Desa Waisala. Jangkauan ini membuat strategi dialog dari rumah ke rumah dan penyisipan edukasi lewat kelompok ekonomi warga menjadi relevan untuk wilayah pesisir yang tersebar.