MALUKU — Langkah strategis itu diwujudkan melalui dialog interaktif dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah”. Acara yang digelar di Kompleks Pergudangan Utama Bulog, Kota Cimahi, Jawa Barat, mempertemukan jajaran direksi dengan mahasiswa dari berbagai universitas se-Bandung.
Bukan sekadar diskusi, para mahasiswa diajak meninjau langsung sistem pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Mereka mengamati mekanisme perputaran stok, standarisasi uji kualitas beras, hingga infrastruktur logistik modern yang menjadi tulang punggung stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.
Kampus Jadi Suplai Inovasi, Bulog Butuh Gagasan Segar
Direktur Utama Bulog, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan swasembada pangan jangka panjang tidak bisa hanya bertumpu pada satu sektor. Menurutnya, institusi pendidikan memiliki peran krusial dalam menyuplai inovasi teknis dan riset terapan yang dibutuhkan industri pangan nasional.
"Penguatan swasembada pangan tidak hanya dilihat dari sisi produksi, tetapi juga dari kemampuan negara dalam menyerap hasil panen petani, menjaga cadangan pangan, memperkuat infrastruktur pascapanen, dan memastikan pangan tetap tersedia serta terjangkau bagi masyarakat," ujar Ahmad Rizal dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (24/5/2026).
Produksi Padi RI Nomor Dua Dunia, Stok Bulog Pecah Rekor
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan laju pertumbuhan produksi padi Indonesia di posisi kedua secara global, tepat di antara Brasil dan Myanmar. Capaian ini memperkuat posisi tawar sektor pertanian domestik sekaligus menjadi bukti konsistensi program ketahanan pangan yang digencarkan sejak 2024 hingga tahun ini.
Untuk mengimbangi tren kenaikan produksi, Bulog mengamankan stok beras 5,36 juta ton—rekor tertinggi dalam sejarah lembaga. Kapasitas infrastruktur pergudangan yang disiapkan mencapai 6,2 juta ton dan akan terus dikembangkan secara bertahap guna mengoptimalkan intervensi pasar dan stabilisasi harga.
Dari sisi penyerapan domestik, realisasi pengadaan beras Bulog sudah mencapai 2,8 juta ton dari target tahunan 4 juta ton. Akselerasi ini memiliki fungsi ganda: melindungi harga di tingkat petani sekaligus menjadi benteng stabilitas pasokan pangan nasional di tengah fluktuasi pasar global.
Ekspansi Gudang ke 100 Titik Baru, Target Tekan Susut Panen
Sebagai bagian dari peta jalan transformasi logistik jangka panjang, Bulog mengonfirmasi rencana ekspansi fasilitas pascapanen di 100 titik strategis baru di seluruh Indonesia pada tahun ini. Penambahan infrastruktur yang mencakup pusat pengolahan gabah dan modernisasi sistem penyimpanan ini diharapkan mampu memangkas tingkat penyusutan hasil panen (losses) dan memperkuat ketahanan rantai pasok pangan dari hulu ke hilir secara integratif.
Dengan rekor stok dan perluasan infrastruktur yang agresif, Bulog tak hanya menjaga pangan tetap tersedia dan terjangkau, tetapi juga memastikan petani tidak dirugikan saat panen raya.