Laporan yang dikutip The New York Times ini menganalisis 3.800 catatan pengadaan terkait chip kelas atas dan komputasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 catatan menunjukkan unit-unit militer China secara spesifik mencoba mendapatkan perangkat keras Nvidia — baik melalui spesifikasi teknis yang diminta maupun dengan menyebut langsung nama chip tersebut.
Unit Siber Incar Server Nvidia untuk Bobol Password
Salah satu temuan paling spesifik adalah permintaan dari unit keamanan siber militer China yang mencari server AI bertenaga Nvidia A100. Server itu rencananya digunakan untuk menjalankan alat pembobol kata sandi bernama hashcat.
Periode pengadaan yang tercatat membentang dari 2019 hingga 2025, menunjukkan upaya ini berlangsung jauh sebelum dan sesudah sanksi ekspor AS diberlakukan. Pemerintah AS pertama kali menerapkan kontrol ekspor pada chip AI pada 2022, dengan alasan khawatir militer China menggunakan teknologi tersebut untuk memajukan riset militernya.
Celah Hukum dan Jalur Penyelundupan
Meskipun ekspor chip AI canggih ke China tanpa lisensi dilarang — dan lisensi hampir selalu ditolak — aturan tersebut hanya berlaku bagi pengirim, bukan pembeli. Artinya, membeli dan menggunakan chip tersebut di China tidak ilegal. Celah inilah yang membuat institusi China, termasuk yang terafiliasi dengan militer, terus mencari cara mendapatkan chip tersebut.
Tingginya permintaan memicu maraknya penyelundupan. Beberapa laporan menyebutkan jalur yang digunakan meliputi Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, dan Jepang. Bahkan salah satu pendiri Supermicro, Yih-Shyan "Wally" Liaw, dituduh menyelundupkan server AI Nvidia senilai USD 2,5 miliar ke China.
Jensen Huang Salah Prediksi, Politikus AS Ketar-ketir
CEO Nvidia Jensen Huang selama ini menentang kebijakan kontrol ekspor. Ia berargumen bahwa AS seharusnya mengizinkan perangkat kerasnya digunakan di seluruh dunia agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada infrastruktur AI Amerika. Huang juga pernah mengklaim bahwa militer China akan menghindari teknologi AS, sama seperti AS yang tidak mempercayai perangkat keras buatan China.
Namun laporan Wirescreen membantah klaim tersebut. Juru bicara Nvidia, John Rizzo, mengatakan kepada NYT bahwa sistem AI canggih biasanya membutuhkan setidaknya seratus ribu chip, sehingga jumlah yang tercatat di dokumen pengadaan itu terlalu kecil untuk menimbulkan kekhawatiran serius.
Terlepas dari perdebatan teknis, temuan ini menjadi skenario mimpi buruk bagi banyak politikus AS. Meskipun Presiden Donald Trump pada akhir 2025 mengizinkan Nvidia mendapatkan lisensi ekspor lagi untuk chip H200, beberapa anggota Partai Republik kini mendorong undang-undang yang memberikan Kongres kewenangan mengontrol ekspor chip AI. Ironisnya, Beijing sendiri kini memerintahkan petugas bea cukainya untuk mencegat chip H200 dan bahkan RTX 5090D V2 di perbatasan, dalam upaya mendorong produksi semikonduktor dalam negeri.