MALUKU — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia akan segera memiliki motor listrik nasional. Kendaraan roda dua itu dijadwalkan meluncur dalam beberapa pekan mendatang dan diharapkan menjadi solusi mobilitas murah, khususnya bagi petani di berbagai daerah. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional, dari pengembangan produk hingga pemanfaatan oleh masyarakat.
Reaksi Sunra: Bukan Saingan, tapi Peluang Kolaborasi
Komisaris Sunra Indonesia, Ismeth Wibowo, menyatakan kehadiran motor listrik nasional tidak dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, ia melihat potensi kolaborasi untuk memperluas adopsi kendaraan berbasis baterai di Tanah Air.
"Menurut saya tidak. Misalnya malah nanti kita mungkin harus berkolaborasi. Jadi kita tidak menganggap motor punya pemerintah itu saingan. Tidak," kata Ismeth di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurut Ismeth, tujuan utama seluruh pelaku industri saat ini bukan lagi bersaing memperebutkan pasar, melainkan mendorong masyarakat beralih dari bahan bakar minyak ke energi listrik. "Mungkin nanti kita bisa ada terobosan apa. Yang penting itu semua harus beralih ke green energy. Motor listrik, menghemat BBM, tidak polusi suara juga," ujarnya.
Saat ditanya apakah semangat utamanya transisi menuju energi hijau, Ismeth menegaskan, "Iya, green energy."
Profil Sunra: Pemain Lama dengan Pangsa Besar di China
Meski namanya belum sepopuler sejumlah merek lain di Indonesia, Sunra bukan pemain baru. Perusahaan ini merupakan bagian dari Xin Ri Group, produsen kendaraan listrik yang bermarkas di Wuxi, China, dan telah berdiri sejak 1999. Di pasar domestiknya, Sunra masuk dalam lima besar produsen sepeda motor listrik dengan penjualan terbesar di China.
Bagi Sunra, rencana pemerintah justru diyakini akan mempercepat pertumbuhan pasar motor listrik Indonesia yang masih memiliki ruang berkembang sangat besar. Dengan kolaborasi yang terbuka, Ismeth optimistis transisi ke kendaraan ramah lingkungan bisa berjalan lebih cepat.