Pencarian

Antusiasme Piala Dunia 2026 di 16 Kota Tuan Rumah Teredam Tiket Mahal dan Skeptisisme Politik

Rabu, 03 Juni 2026 • 03:05:01 WIB
Antusiasme Piala Dunia 2026 di 16 Kota Tuan Rumah Teredam Tiket Mahal dan Skeptisisme Politik
Antusiasme Piala Dunia 2026 di kota-kota tuan rumah teredam oleh harga tiket yang tinggi.

MALUKU — Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah dengan 104 pertandingan yang tersebar di 16 kota di tiga negara. Namun, alih-alih euforia, laporan dari para koresponden lokal di kota-kota tersebut justru menggambarkan kekecewaan dan sikap apatis yang meluas.

Harga Tiket Bikin Frustrasi, Penggemar Pilih Nonton TV

Di Atlanta, seorang penggemar bernama Kyle mengaku harus merogoh kocek hingga 2.000 dolar AS hanya untuk membawa istri dan dua anaknya menonton satu pertandingan babak penyisihan grup. "Tidak ada satu pun pertandingan yang sebanding dengan harga itu," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Piala Dunia 1994 memberikan dampak luar biasa padanya saat berusia 14 tahun, namun kini ia tidak bisa merasakan hal yang sama untuk anak-anaknya. "FIFA sebaiknya merugi. Saya berharap format baru yang diperluas ini menjadi bumerang," sindir Kyle.

Senada dengan Kyle, David Achenbach dari Boston juga memilih tidak akan membeli tiket. "Harganya keterlaluan dan mekanisme pembeliannya terlalu rumit," katanya. Ia yang pernah menyaksikan langsung aksi Diego Maradona di Foxborough pada 1994 kini lebih memilih menonton dari televisi.

Dampak Politik dan Lalu Lintas Jadi Kekhawatiran

Di Dallas, seorang penggemar yang enggan disebut namanya mengaku antusiasmenya langsung luntur begitu harga tiket diumumkan. "Promosi lokal hampir tidak ada. Tidak ada tanda-tanda penyambutan di jalanan. Suhu 35 derajat Celcius di akhir Juni ditambah harga tiket selangit membuat momen 'sekali seumur hidup' ini terasa tak sepadan," urainya.

Kekhawatiran lain datang dari Boston, di mana stadion Foxborough yang berjarak 30 mil dari pusat kota diprediksi akan mengalami kemacetan parah. "Ada kereta api, tapi tidak cukup untuk semua orang. Baru-baru ini ada kesepakatan soal lalu lintas dan parkir antara kota, tim New England Patriots, negara bagian Massachusetts, dan FIFA. Potensinya bisa menjadi kekacauan," jelas Achenbach.

Ia juga mengingatkan agar turnamen jangan sampai dijadikan alat politik. "Tolong jangan ada yang membajak pertandingan demi agenda politik. Ya, Donald Trump, ini untukmu," tegasnya.

Harapan di Tengah Skeptisisme

Meski dipenuhi kekecewaan, sebagian penggemar masih menyisakan harapan. Achenbach yang telah menonton Piala Dunia sejak final 1966 bersama ayahnya mengaku keyakinannya pada turnamen ini belum sepenuhnya pudar. "Saya yakin sinisme dan kelelahan ini akan hilang begitu pertandingan pertama dimulai. Saya berharap ada sepak bola yang bagus, atmosfer yang baik, dan kejutan-kejutan baru," pungkasnya.

Sementara itu, di Boston, pertandingan persahabatan Brasil vs Prancis yang digelar baru-baru ini mendapat sambutan hangat. Kehadiran komunitas Brasil yang besar disebut mampu menjaga semangat dan optimisme tetap hidup di tengah hiruk-pikuk persiapan yang masih carut-marut.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks