AMBON — Azael Collection membawa kain tenun Tanimbar dan ragam motif etnik Maluku ke pasar Australia melalui rangkaian business-to-business (B2B) dan Festival Indonesia Melbourne 2026. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) fesyen etnik Maluku itu dikembangkan Fransina Latumahina, guru besar Jurusan Kehutanan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.
Kegiatan di Melbourne dijadwalkan berlangsung 22–24 Oktober 2026. Azael Collection menjadi satu dari enam UMKM Indonesia yang lolos proses kurasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Melbourne untuk mengikuti agenda tersebut.
Apa Saja Produk yang Dibawa ke Melbourne
Dalam kegiatan itu, Azael Collection memperkenalkan produk fesyen dan aksesori bermotif etnik Maluku. Sebagian produk berbahan atau bermotif kain tenun Tanimbar.
Keterlibatan Fransina menghadirkan sisi lain dari kiprah akademisi Unpatti. Di luar aktivitas pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi, ia terlibat dalam pengembangan produk kreatif yang mengangkat kekayaan budaya Maluku sebagai bagian dari kegiatan kewirausahaan.
Melalui Azael Collection, potensi budaya daerah diolah menjadi produk fesyen dan aksesori yang dapat diperkenalkan kepada konsumen dengan jangkauan pasar lebih luas.
Kain Tenun Tanimbar dan Nilai Tambah Komoditas Lokal
Pengembangan produk berbasis budaya berkaitan dengan upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Kain tenun Tanimbar dan motif etnik Maluku tidak hanya menjadi identitas visual, tetapi juga unsur yang diperkenalkan melalui produk kreatif.
Bagi Unpatti, keterlibatan dosen dalam pengembangan usaha berbasis potensi lokal menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi di tengah masyarakat. Pengetahuan, kreativitas, dan pengalaman dosen mengambil peran dalam pengembangan produk, penguatan kapasitas usaha, serta pembukaan peluang pemasaran.
Tantangan UMKM Menembus Pasar Internasional
Peluang memasuki pasar internasional juga membawa tantangan bagi pelaku UMKM. Selain mempertahankan karakter budaya, pengembangan usaha membutuhkan perhatian terhadap kualitas produk, kapasitas produksi, pengelolaan usaha, dan kesinambungan pasokan bahan baku.
Aspek tersebut menjadi penting agar pengenalan produk dalam kegiatan internasional tidak berhenti pada promosi. Harapannya, promosi itu dapat membuka peluang kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
Fransina menegaskan, melalui Azael Collection, kain tenun Tanimbar dan beragam produk bermotif etnik Maluku akan diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan di Melbourne pada 22–24 Oktober 2026.
Pintu Pembuka Kerja Sama Bisnis Maluku–Australia
Momentum tersebut diharapkan menjadi pintu pembuka bagi kerja sama bisnis yang berkelanjutan. Ajang itu sekaligus memperkuat posisi produk kreatif Maluku dalam promosi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Keikutsertaan Azael Collection menempatkan produk fesyen etnik Maluku dalam ruang promosi lintas negara. Agenda itu juga memperlihatkan keterlibatan dosen Unpatti dalam mengembangkan usaha kreatif yang berangkat dari potensi budaya daerah.
Dari Ambon, kain tenun Tanimbar dan ragam etnik Maluku kini mendapat kesempatan diperkenalkan dalam forum bisnis dan festival Indonesia di Melbourne.