AMBON — Michael Wattimena menyampaikan hal itu di hadapan para calon wisudawan Unpatti dalam sesi berbagi pengalaman dan motivasi. Ia menyoroti kekayaan sumber daya alam Maluku yang menurutnya belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga.
Menurut Wattimena, Maluku dianugerahi potensi besar di sektor kelautan, perikanan, pertanian, pariwisata, energi, dan budaya. Kekayaan itu, katanya, semestinya menjadi modal generasi muda untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia.
"Katong ini sudah dimanjakan oleh alam. Katong ke laut, dapat ikan. Katong ke darat, ada hutan. Apa saja mudah untuk diambil. Jadi kalau orang bilang Maluku itu miskin, beta juga bingung, miskin apanya?" ujarnya.
7,4 Persen Daratan, Sisanya Laut
Wattimena menyebut sekitar 7,4 persen wilayah Maluku berupa daratan, sementara sebagian besar lainnya adalah laut. Kondisi geografis itu menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu kekuatan utama pembangunan daerah.
Karena itu, ia berharap lulusan Unpatti, terutama dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, mengambil peran strategis dalam mengembangkan potensi tersebut. Lulusan bidang pertanian, pariwisata, energi, dan budaya juga diminta mengasah kompetensi serupa.
Blok Masela: Peluang atau Sekadar Tontonan?
Dalam kesempatan itu, Wattimena menyinggung pengembangan Proyek Strategis Nasional Blok Masela yang telah dinantikan selama 28 tahun. Warga Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya disebutnya kini menaruh harapan besar pada proyek gas tersebut.
Ia menyebut nilai investasi Blok Masela sekitar 20,9 miliar dolar AS atau hampir Rp400 triliun. Angka itu, menurutnya, memunculkan pertanyaan mendasar soal kesiapan generasi muda Maluku.
"Pertanyaan kritisnya adalah, apakah Blok Masela dengan total investasi 20,9 miliar dolar AS ini membuat masyarakat dan anak-anak Maluku hanya menjadi penonton, ataukah kita ikut bermain dalam kompetisi tersebut?" tegasnya.
Wattimena mengingatkan keterlibatan putra-putri Maluku harus dipersiapkan lewat peningkatan pendidikan, keterampilan, dan kompetensi sesuai kebutuhan industri minyak dan gas bumi. Ia menyinggung perhatian terhadap persiapan SDM lokal sudah muncul sejak Presiden Joko Widodo meresmikan Jembatan Merah Putih pada 2016, saat Unpatti dan politeknik diminta menyiapkan generasi muda Maluku.
Tiga Pesan untuk Bekal Setelah Wisuda
Wattimena menutup paparannya dengan tiga pesan bagi para calon wisudawan. Pesan pertama, berani memiliki mimpi besar dan tidak membatasi masa depan karena keadaan hari ini.
Ia menceritakan latar belakang keluarganya yang sederhana dengan orang tua berprofesi guru. Menurutnya, asal daerah maupun kondisi keluarga bukan alasan berhenti memperjuangkan cita-cita.
"Jangan membatasi masa depan hanya karena keadaan hari ini. Berani menetapkan tujuan dan mulai melangkah. Jangan pernah takut gagal, karena kegagalan bukan akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses menuju keberhasilan," pesannya.
Pesan kedua, jangan melupakan akar dan asal-usul. Wattimena meminta para wisudawan menghormati orang tua, menjaga nama baik almamater, dan tidak melupakan tanah kelahiran sekalipun kelak berkarier di luar Maluku.
"Setinggi apa pun kita terbang, ingat dari mana kita berasal. Apa yang kita raih hari ini merupakan bagian dari pengorbanan dan doa orang tua. Jangan pernah melupakan sejarah," ujarnya.
Pesan ketiga, menjadi pribadi yang bermakna, bukan sekadar sukses. Menurutnya, kesuksesan tidak diukur dari jabatan atau kekayaan, melainkan dari besarnya manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan daerah asal.
"Don't just be successful, be meaningful. Jangan hanya sukses, tetapi kita harus juga bermakna. Percuma sukses kalau kita tidak bermakna bagi keluarga, sesama dan daerah," tegasnya.