BANDA NEIRA — Hari ketiga kegiatan sketsa di Banda Neira membawa kejutan bagi Namira Zifani Pelu. Sketcher yang tinggal di Ambon ini awalnya berharap masuk kelompok yang menggambar kawasan Istana Mini, namun ia justru ditempatkan di pasar tradisional.
"Sejujurnya, saya berharap masuk kelompok pertama. Menggambar bangunan terasa lebih mudah bagi saya, dibandingkan menggambar manusia yang terus bergerak," ujarnya.
Lompatan Besar: Dari Pensil ke Pena
Di tengah keramaian pasar, Namira mengambil keputusan yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya ia membuat sketsa langsung menggunakan pena, tanpa didahului goresan pensil. Tidak ada kesempatan menghapus atau mundur. Setiap garis harus diterima apa adanya.
"Barangkali hidup juga demikian," katanya merenung.
Pasar Jadi Galeri Dadakan
Saat menggambar ikan salir yang ditata nelayan, Namira dikagetkan oleh reaksi para pedagang dan pengunjung pasar. Beberapa nelayan menghampiri dan memperhatikan setiap goresan penanya dengan rasa penasaran. Percakapan kecil pun muncul di sela-sela aktivitas jual beli.
Pengalaman itu membuka perspektif baru. Seni, kata Namira, tidak selalu membutuhkan ruang galeri megah. Ia cukup hadir di sudut pasar, di antara aroma laut dan obrolan sederhana warga.
Giliran ke Istana Mini: Justru Lebih Sulit
Saat makan siang, rombongan bertukar lokasi. Namira akhirnya sampai juga ke kawasan Istana Mini — tempat yang sebelumnya ia anggap lebih mudah. Namun kenyataannya, ia justru kesulitan menentukan objek gambar.
"Anehnya, tempat yang sebelumnya saya anggap lebih mudah justru membuat saya kesulitan menentukan objek gambar. Saat itulah saya tersenyum sendiri," tuturnya.
Namira mengakui bahwa Tuhan sudah memilihkan tempat terbaik untuknya sejak awal. Hari itu menjadi hari yang manis antara dirinya, pasar Banda, tiang bendera Istana Mini, dan rasa syukur yang datang tanpa diduga.