MALUKU — Pemerintah menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai pilar paling krusial dalam transformasi ekonomi. Dony Oskaria menegaskan, semua negara maju yang berkelanjutan memiliki SDM yang kuat dan cerdas. "Karena itu pemerintah melihat persoalan stunting sebagai isu yang sangat mendasar. Saat ini angka stunting kita masih sekitar 22 persen. Ini tantangan besar yang harus kita selesaikan," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Angka ini berarti hampir seperempat balita Indonesia berisiko mengalami hambatan pertumbuhan kognitif dan fisik. Jika tidak ditangani, bonus demografi yang diproyeksikan pada 2045 justru bisa menjadi beban pembangunan. Presiden Prabowo Subianto, menurut Dony, menjadikan pembangunan kualitas manusia sebagai prioritas utama karena negara maju hanya bisa dibangun oleh masyarakat yang produktif.
Swasembada Pangan: Cetak Sawah Baru hingga Reformasi Pupuk
Pilar pertama adalah ketahanan pangan. Dony menyebut tidak ada negara yang bisa berkembang berkelanjutan tanpa mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Oleh karena itu, pemerintah menjalankan program cetak sawah baru, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian alih fungsi lahan, hingga reformasi tata niaga pupuk.
Kebijakan pembelian gabah petani dan penguatan kapasitas penyimpanan pangan nasional melalui Bulog juga dipercepat. Targetnya jelas: swasembada pangan agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor beras atau komoditas pokok lainnya.
B50 dan Eksplorasi Cadangan Baru: Jalan Menuju Kemandirian Energi
Pilar kedua adalah ketahanan energi. Dony menekankan bahwa negara berdaulat harus memiliki kemandirian energi. Pemerintah kini mengembangkan energi baru dan terbarukan, memperluas program biodiesel B50, meningkatkan kapasitas cadangan BBM nasional, serta melakukan eksplorasi sumber energi baru.
"Kalau sebuah negara ingin berdaulat dan menjadi negara maju, maka harus memiliki ketahanan energi. Karena itu kita mengembangkan energi baru terbarukan, menambah storage BBM, melakukan eksplorasi cadangan energi baru, dan menjalankan program B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi," jelas Dony. Selain itu, jaringan distribusi gas rumah tangga juga terus dikembangkan sebagai strategi jangka panjang.
Dony menambahkan, berbagai program strategis ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari transformasi ekonomi nasional yang dirancang secara menyeluruh. "Dalam satu negara yang sedang melakukan transformasi tentu akan ada respons, baik positif maupun negatif. Tetapi yang paling penting adalah pemahaman masyarakat mengenai proses transformasi yang sedang dijalankan secara fundamental oleh pemerintah," pungkasnya.