MALUKU — Kimia Farma tidak main-main dalam menyambut gelombang usia emas. Perseroan telah menyusun Silver Economy Blueprint dan membangun ekosistem Healthy Ageing yang menyatukan layanan klinik, laboratorium, apotek, hingga perawatan di rumah. Langkah ini dinilai krusial karena kelompok lansia menyerap 30-40 persen belanja kesehatan nasional, setara Rp 190-260 triliun per tahun.
Belanja Kesehatan Lansia Tiga Kali Lipat Lebih Tinggi
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, mengungkapkan konsumsi layanan kesehatan lansia 3-5 kali lebih tinggi dibanding kelompok usia lain. Sekitar 70 persen dari belanja itu didominasi penanganan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
"Tidak ada sistem kesehatan yang mampu menghadapi ageing population tanpa kolaborasi lintas sektor," kata Hanadi dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026). Ia menegaskan Kimia Farma tidak hanya menyediakan produk, tetapi membangun infrastruktur nasional agar lansia tetap sehat, mandiri, dan produktif.
Fokus pada Pencegahan, Bukan Sekadar Obat
Kimia Farma memproyeksikan pasar obat farmasi hanya mengisi 30 persen dari peluang Silver Economy. Sebaliknya, 70 persen nilai pasar masa depan ada pada ekosistem layanan terintegrasi yang mencakup pencegahan dan rehabilitasi.
Rinciannya, porsi terbesar berasal dari Home Care dan Long-Term Care (20 persen), disusul Chronic Care Management (20 persen), layanan Wellness & Preventive (15 persen), dan diagnostik (15 persen). Layanan preventif dan personal ini dijalankan oleh anak usaha PT Kimia Farma Diagnostika (KFD).
Perseroan juga menyediakan homecare langsung ke kediaman pasien, mencakup Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse. Integrasi ini memastikan pengelolaan penyakit kronis berjalan tanpa pasien harus bolak-balik ke rumah sakit.
Tantangan Regulasi dan Kekurangan Tenaga Geriatri
Meski potensinya besar, membangun ekosistem Healthy Ageing terintegrasi menghadapi hambatan. Dari sisi regulasi, layanan home care belum terintegrasi dalam sistem pembiayaan, sementara dana untuk layanan preventif masih terbatas.
Indonesia juga kekurangan caregiver dan tenaga kerja terlatih khusus geriatri. Akses terhadap fasilitas lansia di luar kota besar pun sangat sulit. Untuk mengatasinya, Kimia Farma menyiapkan skema public-private partnership dengan komunitas lansia, memanfaatkan jaringan apotek nasional, klinik, dan laboratorium sebagai titik layanan preventif dan rehabilitasi.
Dengan strategi ini, Kimia Farma berharap bisa menjawab kebutuhan 20 persen populasi lansia di 2045 — bukan sekadar sebagai pasien, tetapi sebagai individu yang tetap produktif dan mandiri.