MALUKU — Pertemuan itu membahas strategi menjaga stabilitas pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor. Salah satu wacana yang mengemuka adalah buyback saham emiten BUMN.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai perhatian para pemangku kepentingan ini menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang perusahaan pelat merah, khususnya sektor perbankan.
“Kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan nasional ditopang oleh kinerja industri yang tetap resilien di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Hery dalam keterangan resmi, Selasa (10/6).
Kinerja Kredit Tumbuh Hampir 10 Persen
Hery yang juga Ketua Umum Perbanas menyebut fundamental industri perbankan nasional masih solid. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026 menunjukkan kredit perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan.
Dana Pihak Ketiga (DPK) ikut meningkat 11,40%. Menurut Hery, angka ini mencerminkan fungsi intermediasi perbankan berjalan efektif dan kepercayaan publik tetap terjaga.
“Pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan masih terjaga dengan baik,” jelasnya.
Fokus BRI: Kualitas Aset dan Nilai Tambah Pemegang Saham
Bagi BRI, penguatan kepercayaan pasar dibangun lewat kinerja konsisten. Perseroan terus menjaga kualitas aset, memperkuat permodalan dan likuiditas, serta menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.
Soal wacana buyback, Hery mengatakan setiap aksi korporasi akan dikaji cermat sesuai ketentuan regulator. “Saat ini fokus utama kami tetap pada penguatan fundamental perusahaan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.
Pergerakan IHSG yang masih tertekan sepanjang tahun ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan investor perlu dijaga dengan kinerja riil, bukan sekadar janji. BRI memilih jalur konsolidasi sambil menunggu momentum pemulihan pasar yang lebih pasti.