AMBON — Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon memulai babak baru dalam penanganan sampah plastik dengan menggelar Kick-off Meeting dan Stakeholder Coordination Meeting, Rabu (17/6/26) di Ruang Rapat Vlissingen Balai Kota. Proyek riset berjudul “Advancing an Equitable and Just Energy Transition in Ambon through Community-Based Waste Innovation and Inclusive Education” ini melibatkan Universitas Katolik Soegijapranata, Macquarie University Australia, Politeknik Negeri Ambon, Institut Tifa Damai Maluku, serta sejumlah komunitas lokal.
Volume Sampah 250 Ton Per Hari, Pemkot Akui Kewalahan
Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena dalam sambutannya menyebut tantangan persampahan saat ini sangat luar biasa. Data dari KLHK menempatkan Ambon dalam kategori daerah pembinaan, yang berarti masih membutuhkan intervensi serius di sektor infrastruktur dan sumber daya manusia.
“Kami meyakini sungguh bahwa kita sementara berada dalam tantangan yang luar biasa dalam berbagai aspek. Karena itu, tidak ada satu pihak pun yang akan mampu bekerja sendiri,” ujar Bodewin.
Pemkot telah melakukan sejumlah pembenahan internal, mulai dari infrastruktur, pengadaan mobil pengangkut sampah, hingga penguatan SDM di Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan. Namun, dengan volume sampah harian 250 ton, biaya operasional pengangkutan konvensional dinilai terlalu besar.
Belajar dari Singapura: Esensi Bukan Cuma Listrik
Bodewin membagikan pengalamannya saat mengunjungi pembangkit listrik berbasis sampah di Singapura. Meski investasinya sangat besar, listrik yang dihasilkan hanya menyuplai 2 persen kebutuhan energi negara tersebut.
“Kalau hanya sekadar menampung, mengangkut, dan membuang ke TPA, kita hanya memindahkan masalah dari sumbernya ke tempat pembuangan akhir. Masalah baru akan muncul di sana. Tapi kalau kita mampu berinovasi mengelola sampah dari hulu (sumbernya), maka itu akan sangat membantu,” jelasnya.
Pemkot berencana menerapkan Material Recovery Facility (MRF) dan Refuse Derived Fuel (RDF) tahun ini. Teknologi ini akan mengubah sampah menjadi energi terbarukan seperti briket, bukan sekadar memindahkan masalah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
‘Tenaga Dalam’ Masyarakat Harus Diedukasi
Wali Kota mengapresiasi perubahan paradigma warga Ambon. Jika dulu pemerintah kerap diserang di media sosial soal sampah, kini publik saling mengingatkan dan komunitas lokal bermunculan secara sukarela mengelola sampah di lingkungan masing-masing.
“Tenaga dalam atau potensi lokal inilah yang harus terus diedukasi agar tidak hilang,” tegas Bodewin.
Ia juga meminta Politeknik Negeri Ambon, yang ikut dalam riset ini, untuk menghasilkan alat pengelolaan sampah yang bisa ditempatkan di pemukiman warga. “Politeknik Negeri Ambon membawa langsung nama Ambon. Kali ini kami butuh teknologi pengelolaan sampah dari Politeknik Negeri Ambon. Mudah-mudahan bisa menghasilkan sebuah alat yang bisa kita sediakan dan letakkan di wilayah pemukiman masyarakat. Jika itu terwujud, saya rasa masalah selesai,” ujarnya.
Target Akhir: Dokumen Solusi Jangka Panjang
Melalui penelitian kolaboratif ini, Wali Kota berharap lahir dokumen komprehensif yang mampu memotret persoalan sampah di Ambon secara akurat sekaligus menawarkan formula solusi jangka panjang yang aplikatif. Kick-off meeting menjadi langkah awal untuk menyelaraskan arah implementasi, memperkuat koordinasi, dan meneguhkan komitmen kolaborasi sejak tahap awal agar sejalan dengan agenda pembangunan daerah.